FPK Surabaya Ajak Warga Rawat Kebhinekaan dan Guyub Rukun

FPK Surabaya Ajak Warga Rawat Kebhinekaan dan Guyub Rukun
Foto : Anggota FPK saat melakukan silaturahmi ke bakesbangpol kota surabaya

SURABAYA, FileNews.id - Keamanan dan ketertiban menjadi salah satu fondasi penting bagi kehidupan masyarakat di tengah keberagaman Surabaya. Kota yang dihuni warga dari berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial itu membutuhkan ruang dialog agar setiap persoalan tidak berkembang menjadi gesekan antarkelompok.

Kegelisahan sebagian warga muncul menyusul sejumlah persoalan keamanan dan ketertiban, termasuk isu penataan kota yang berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Kekhawatiran tersebut tidak hanya berkaitan dengan gangguan keamanan, tetapi juga potensi munculnya ketegangan, prasangka, dan pertentangan di tengah warga.

Dalam situasi itu, Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kota Surabaya mengingatkan bahwa Surabaya merupakan rumah bersama. Karena itu, seluruh warga perlu menjaga suasana damai, guyub, rukun, saling menghormati, dan saling membantu.

Ketua FPK Kota Surabaya Hosleh Abdullah, yang akrab disapa Cak Dullah, menegaskan bahwa setiap warga memiliki hak untuk memperoleh penghormatan yang sama.
“Kami ingin tegaskan bahwa Surabaya, kota kita ini, memberi penghormatan kepada semua.”

FPK Surabaya juga menyampaikan apresiasi terhadap langkah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dalam melakukan penataan kota. Menurut Cak Dullah, kebijakan penataan mungkin menimbulkan dampak bagi sebagian masyarakat, tetapi perlu dipahami sebagai bagian dari upaya membangun kota yang lebih tertib dan memberikan manfaat bagi warga secara luas.

“Kami apresiasi Wali Kota dalam upayanya menata kota. Memang akan ada yang terdampak, tetapi mari kita pahami niat Wali Kota adalah baik karena ini untuk kemaslahatan warga Surabaya kebanyakan.”
Dukungan FPK mencakup berbagai langkah perbaikan, antara lain penataan parkir, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan keteraturan kota.

Namun, FPK mengingatkan agar setiap kebijakan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial dibarengi komunikasi yang terbuka. Persoalan di lapangan, kata FPK, perlu diselesaikan melalui dialog agar perbedaan kepentingan tidak berubah menjadi konflik.

Cegah Prasangka Antarkelompok
FPK menilai gangguan keamanan dan ketertiban tidak boleh dibiarkan. Meski demikian, respons terhadap persoalan tersebut juga harus dilakukan secara proporsional dan tidak melahirkan stigma terhadap kelompok tertentu.

Masyarakat diajak tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Narasi yang mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lain juga perlu dihindari karena dapat memperlebar jarak sosial serta merusak kepercayaan yang telah dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah masyarakat yang majemuk, perbedaan seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun Surabaya, bukan alasan untuk menciptakan pertentangan.
Pesan Positif Perlu Diperluas
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya Tundjung Iswandaru mengapresiasi peran FPK dalam menjaga kebersamaan dan memperkuat pembauran masyarakat.

Ia mendorong agar berbagai kegiatan serta pesan positif FPK dipublikasikan secara lebih luas, terutama melalui media sosial. 

Menurutnya, penyebaran pesan kebhinekaan di ruang digital penting untuk menjangkau lebih banyak warga sekaligus menangkal informasi yang berpotensi memicu keresahan.
“Apa yang dilakukan oleh FPK juga perlu dipublikasikan melalui media sosial. Saya akan bantu,” ujar Tundjung.

FPK Surabaya menegaskan bahwa menjaga keamanan, ketertiban, dan keharmonisan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat. Seluruh warga memiliki peran untuk memastikan setiap orang merasa dihargai dan menjadi bagian dari kehidupan kota.

Merawat kebhinekaan berarti merawat Surabaya sebagai ruang hidup bersama.
Berbeda suku, satu Surabaya. Berbeda budaya, tetap satu persaudaraan.
FPK Surabaya: Merawat Kebhinekaan, Merawat Surabaya.


 (Rophy Pareno)