Satu Dekade Harian Nasional News, Merawat Integritas Pers di Tengah Banjir Informasi
SURABAYA, FileNews.id - Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan media bukan lagi sekadar bagaimana menyampaikan berita secara cepat. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan informasi tetap benar, berimbang, dan memberi makna bagi publik.
Pesan itulah yang mengemuka dalam peringatan Milad ke-10 Harian Nasional News (HNN) di Aula Gedung Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Jalan Taman Apsari Nomor 15–17, Surabaya, Sabtu (26/9/2026).
Mengusung tema “10 Tahun Mengawal Informasi Bangsa: Berintegritas, Independen, dan Menginspirasi”, peringatan satu dekade HNN berlangsung dalam suasana hangat dan penuh refleksi. Acara tersebut dihadiri jajaran redaksi, pimpinan media, insan pers, pengurus PWI Jawa Timur, perwakilan kepolisian, pemerintah, mitra kerja, mahasiswa, serta sejumlah sahabat media.
Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Wakil Ketua Bidang Organisasii dan Keanggotaan PWI Pusat Haji Joko Tetuko, Ketua PWI Jawa Timur Haji Lutfil Hakim beserta jajaran pengurus, perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Humas Polrestabes Surabaya, serta perwakilan komunitas dan lembaga mitra.
Bagi HNN, perjalanan 10 tahun tidak lahir dalam ruang yang mudah. Pimpinan Harian Nasional News, Nurdin Longgari, menceritakan bahwa media tersebut dirintis pada 2016 melalui penerbitan media cetak.
Namun, pandemi Covid-19 dan meningkatnya biaya produksi membuat perusahaan harus menghentikan sementara penerbitan cetak. HNN kemudian beradaptasi dengan memperkuat platform digital.
“Awalnya dari media cetak. Kita kena Covid, kita berhenti dulu ketika itu cetaknya karena semua mahal. Baru kita beralih masuk ke media online,” ujar Nurdin dalam sambutannya.
Transformasi itu kini berkembang menjadi jaringan media yang terdiri atas 10 media online dalam satu grup. Seluruhnya berkantor di Jalan Jaksa Agung Suprapto Nomor 1, Surabaya.
Pengembangan jaringan ini menjadi bagian dari strategi HNN untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus menjawab perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi berita.
Di hadapan para tamu undangan, Nurdin menegaskan bahwa perkembangan media tidak boleh mengorbankan integritas jurnalistik. Ia meminta seluruh wartawan yang tergabung dalam grup HNN menjaga nama baik profesi dan tidak menyalahgunakan identitas media untuk kepentingan pribadi.
Ia bahkan menyatakan tidak akan melindungi siapa pun yang terbukti menyebarkan berita bohong, melakukan intimidasi, atau memanfaatkan pemberitaan untuk meminta keuntungan.
“Kalau ada yang mengaku media dari media saya lalu menyebarkan berita-berita hoaks, langsung ditangkap. Saya ikhlas,” tegasnya.
Menurut Nurdin, wartawan tidak boleh mendatangi narasumber dengan ancaman pemberitaan. Praktik seperti mengirimkan naskah kepada pihak tertentu lalu menanyakan apakah berita tersebut akan dimuat atau tidak, menurut dia, dapat mengarah pada pemerasan dan mencederai martabat pers.
“Wartawan itu independen, tidak boleh memihak kepada siapa pun. Kalau ada dua pihak yang diberitakan, keduanya harus diwawancarai,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya konfirmasi dalam setiap pemberitaan, terutama terhadap informasi yang berpotensi merugikan pihak lain. Jika narasumber tidak memberikan tanggapan, wartawan tetap perlu mencatat bahwa upaya konfirmasi telah dilakukan.
Prinsip tersebut sejalan dengan Kode Etik Jurnalistik yang mewajibkan wartawan bekerja secara independen, menghasilkan berita yang akurat dan berimbang, serta menguji informasi melalui proses pemeriksaan dan konfirmasi.
Ketua PWI Jawa Timur Haji Lutfi Hakim menilai peringatan satu dekade HNN memiliki nuansa berbeda. Selain menjadi perayaan ulang tahun media, kegiatan tersebut dinilainya sebagai ruang pengingat bagi insan pers mengenai tanggung jawab moral profesi jurnalistik.
“Baru kali ini saya merasakan betul bagaimana nuansa spiritualitas itu terasa,” ujarnya.
Ia menyebut profesi jurnalistik sebagai pekerjaan yang memiliki dimensi kenabian karena menyampaikan pesan kepada masyarakat. Karena itu, wartawan dituntut untuk tidak berbohong, tidak melakukan manipulasi, dan tidak menjadikan pemberitaan sebagai alat untuk menekan pihak lain.
Menurut Lutfi wartawan harus mampu menerangi, meluruskan, dan menjadi kompas bagi publik di tengah kebingungan informasi.
“Kalau sudah berani, berarti harus independen. Kalau sudah independen, berarti tidak mudah terbuai oleh janji-janji atau iming-iming, apalagi melakukan blackmail,” katanya.
Lutfi juga mengingatkan bahwa media saat ini menghadapi tantangan besar berupa banjir informasi. Jika pada masa media cetak persoalan utama terletak pada distribusi, maka era digital menghadirkan persoalan baru berupa kelimpahan informasi.
Ruang publik dipenuhi berbagai konten dari media sosial, influencer, podcaster, dan produsen informasi nonjurnalistik. Konten-konten tersebut sering kali mampu menarik perhatian lebih besar dibandingkan media resmi karena didukung oleh popularitas dan kekuatan algoritma.
Dalam kondisi tersebut, Lutfi menilai media profesional harus menawarkan sesuatu yang tidak selalu dimiliki oleh konten populer, yakni akurasi, verifikasi, kedalaman, dan manfaat publik.
“Tidak sekadar menjadi berita, tetapi di balik itu ada makna, ada nilai, ada sesuatu yang betul-betul bermanfaat bagi publik. Tidak hanya cepat, tetapi yang paling penting adalah tepat,” tuturnya.
Ia menegaskan, media tidak boleh hanya mengejar jumlah kunjungan atau monetisasi digital. Keberadaan media harus dibuktikan melalui kontribusinya dalam menjelaskan persoalan, mengawasi kekuasaan, dan membantu masyarakat memahami berbagai peristiwa secara lebih utuh.
“Kalau media resmi tidak memberikan sesuatu yang lebih bermakna dan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat, bubarkan saja,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus tantangan bagi perusahaan pers agar tidak kehilangan tujuan utama jurnalistik di tengah kompetisi ekonomi perhatian.
Sepuluh tahun perjalanan HNN menunjukkan bahwa keberlangsungan media membutuhkan kemampuan beradaptasi, pengelolaan bisnis, serta konsistensi menjaga kualitas jurnalistik. Peralihan dari media cetak ke media online menjadi salah satu bukti bahwa perubahan teknologi harus direspons tanpa meninggalkan prinsip dasar pers.
Nurdin mengatakan HNN akan terus memperkuat jaringan media dan membangun ekosistem yang memungkinkan kerja jurnalistik berjalan secara berkelanjutan. Ia juga membuka ruang bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa komunikasi dan ilmu sosial, untuk belajar melalui program praktik kerja lapangan serta pengembangan kompetensi.
Bagi HNN, milad ke-10 bukan sekadar penanda usia. Momentum tersebut menjadi penegasan kembali bahwa media harus hadir sebagai ruang pencarian fakta, penyampai informasi, sekaligus penjaga kepentingan publik.
Di tengah derasnya informasi yang beredar setiap detik, keberadaan media tidak cukup hanya dengan hadir dan cepat. Media dituntut tetap jujur, independen, profesional, serta mampu membedakan antara informasi yang sekadar ramai dan informasi yang benar-benar berarti.
Dari Surabaya, satu dekade HNN menjadi pengingat bahwa masa depan pers tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan juga oleh keberanian untuk menjaga integritas.
(Rophy Pareno)


