Film Indie Surabaya “Sedekah Wayang Suket” Ludruk Garingan Masuk Delapan Besar Madani International Film Festival

Film Indie Surabaya “Sedekah Wayang Suket” Ludruk Garingan Masuk Delapan Besar Madani International Film Festival
Foto: Salah satu adegan Film

SURABAYA, FileNews.id - Kabar membanggakan datang dari perfilman independen Jawa Timur. Film pendek bertajuk “Sedekah Wayang Suket”, karya film indie berbasis tradisi Ludruk Garingan dengan objek Wayang Suket karya Heirosay, berhasil masuk Delapan Besar dalam Madani International Film Festival 2026.

Film tersebut dijadwalkan diputar pada 9 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, tepatnya di Gedung/Studio Syumanjaya. Festival yang berlangsung 7–11 Oktober 2026 ini diikuti oleh karya-karya film dari 29 negara, dengan total 108 film terpilih dalam program kompetisi.

Eksplorasi Tradisi dalam Medium Film
“Sedekah Wayang Suket” menghadirkan tiga tokoh Ludruk Garingan, yakni Meimura sebagai Besut, Hengky Kusuma sebagai Sumogambar, dan Den Bei sebagai Jamino.  Film ini menjadi salah satu bentuk eksplorasi bagaimana seni tradisi dapat berdialog dengan medium film secara sederhana, independen, namun tetap memiliki daya jangkau yang luas.

Di balik karya tersebut terdapat sosok Heirosay, seniman asal Surabaya yang sejak belia telah akrab dengan kamera dan dunia perfilman. Kedekatannya dengan seni tradisi Ludruk juga telah tumbuh sejak dirinya belajar di Teater Jaguar. Heirosay telah menghasilkan sejumlah karya film, antara lain “Srikandi-Srikandi Nusantara”, produksi Parfi Jawa Timur. Selain sebagai kreator film, ia juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler film di berbagai SMA negeri maupun swasta di Surabaya dan Jawa Timur.

Masuknya “Sedekah Wayang Suket” ke Delapan Besar Madani International Film Festival sekaligus menunjukkan bahwa karya berbasis tradisi dari Surabaya dan Jawa Timur memiliki peluang untuk hadir di ruang apresiasi perfilman yang lebih luas.

Ironi di Balik Prestasi: Seniman Indie, Perjuangan Juga Indie
Namun, di balik kabar gembira tersebut, terdapat persoalan klasik yang masih dihadapi banyak seniman independen. Ketika karya berhasil masuk festival di luar daerah, persoalan berikutnya justru sering kali adalah bagaimana membiayai keberangkatan senimannya.

“Ini menjadi ironi yang hampir selalu dialami seniman independen. Karya sudah bisa menembus festival, tetapi untuk berangkat ke festival saja masih harus jungkir balik mencari biaya transportasi,” ujar Meimura.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan seniman bukan semata-mata soal kemampuan menciptakan karya. Banyak karya lahir dari keterbatasan fasilitas, tetapi justru mampu membawa nama daerah ke ruang yang lebih luas.

“Sedekah Wayang Suket” menjadi contoh kecil bahwa Ludruk, Wayang Suket, dan kreativitas seniman Surabaya dapat bertemu dengan teknologi film dan festival internasional.

Dari Surabaya Menuju Jakarta
Dari tradisi menuju layar.
Dari karya independen menuju ruang apresiasi internasional.
Dan seperti biasa, ada satu kalimat yang barangkali paling tepat menggambarkan perjalanan para seniman indie:
Karyanya independen. Perjuangannya juga independen. Bahkan ongkos berangkat pun kadang masih harus dicari secara independen.

Ya... namanya juga INDIEpenden.

Tentang Madani International Film Festival
Perlu diketahui bahwa Madani International Film Festival adalah festival film internasional dan kebudayaan tahunan di Indonesia yang menampilkan kehidupan, narasi, serta gagasan kaum Muslim dari berbagai belahan dunia. Edisi 2026 mengusung tema “Rimpang” dan menjadi ajang pertemuan sineas dari Asia, Afrika, dan komunitas Muslim global.

(Rophy Pareno)