Ratusan Siswa SD Muhammadiyah 13 Surabaya Taklukkan Tantangan 1.000 Langkah di “Jusceri”

Ratusan Siswa SD Muhammadiyah 13 Surabaya Taklukkan Tantangan 1.000 Langkah di “Jusceri”
Foto : Rute Mengelilingi Lingkungan Sekolah

SURABAYA, FileNews.id - Halaman SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Jumat (9/10/2026), pagi itu tak seperti biasa. Gelak tawa dan sorak sorai ratusan siswa kelas 1–6 mengiringi pelepasan kegiatan rutin Jumat Sehat Ceria (Jusceri) yang kali ini dikemas spesial dengan tantangan “Jalan Kaki 1.000 Langkah”.

Semangat Pagi di Garis Start
Sebelum keberangkatan, Kepala SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Amang Muazam, S.Ag., M.Pd.I., membakar semangat para siswa dengan pesan singkat namun mengena. “Tubuh yang sehat dan kuat lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang positif. Melalui 1.000 langkah hari ini, kita tidak hanya melatih fisik agar bugar, tetapi juga melatih kedisiplinan dan kebersamaan sejak dini,” ujarnya di hadapan barisan siswa yang sudah siap dengan sepatu olahraga dan topi khas sekolah.

Amang, yang juga aktif di struktur Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya dan Kwartir Daerah Hizbul Wathan, memang kerap menekankan pendidikan karakter melalui aktivitas fisik dan pembiasaan positif di sekolah yang dijuluki “eXpresi School” itu.

Rute Mengelilingi Lingkungan Sekolah
Dengan dipandu guru dan staf, ratusan siswa berbaris rapi lalu melangkah dari garis start di halaman sekolah, mengelilingi kawasan sekitar lingkungan SD Muhammadiyah 13 di Jalan Sampurna, Surabaya. Langkah demi langkah mereka hitung bersama, sesekali diselingi yel-yel dan tepuk tangan yang membuat suasana semakin meriah.

Kegiatan ini dirancang sederhana namun terukur: 1.000 langkah menjadi target minimal yang bisa dicapai oleh siswa kelas rendah hingga tinggi, dengan pendampingan guru agar semua tetap dalam koridor aman dan tertib.

“Kardio Sederhana” yang Efektif
Guru Olahraga SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Rizki, mengaku bangga melihat antusiasme anak-anak. “Alhamdulillah, seluruh siswa kelas 1 sampai 6 mengikuti kegiatan ini dengan sangat bersemangat tanpa mengeluh lelah. Jalan kaki adalah olahraga kardio paling sederhana yang sangat efektif untuk melatih kekuatan otot kaki, menjaga kesehatan jantung, serta menyegarkan pikiran siswa sebelum kembali belajar di kelas,” ungkapnya.

Dari kacamata kesehatan anak, aktivitas seperti ini sejalan dengan anjuran agar siswa sekolah dasar rutin bergerak setiap hari, minimal 60 menit aktivitas fisik sedang hingga berat. Jalan kaki 1.000 langkah di pagi hari menjadi “pemanasan” harian yang mudah diadopsi, baik di sekolah maupun di rumah.

Dari Rutinitas Menjadi Gaya Hidup
Lebih dari sekadar seremoni olahraga pagi, Jusceri 1.000 langkah ini dirancang sebagai pintu masuk membangun gaya hidup aktif sejak dini. Pihak sekolah berharap kebiasaan berjalan kaki dan aktif bergerak ini tidak berhenti di halaman sekolah, melainkan terbawa ke rutinitas harian siswa di rumah.

“Kami ingin anak-anak terbiasa bergerak, tidak hanya saat ada event besar, tapi setiap hari. Ini investasi kesehatan jangka panjang,” tegas Amang dalam kesempatan yang sama.

Mempererat Ikatan Sekolah
Di sisi sosial, kegiatan ini juga berfungsi sebagai ruang penguatan ikatan emosional antarwarga sekolah. Siswa dari berbagai kelas berjalan berdampingan, saling menyemangati, sementara guru dan staf ikut serta di antara barisan, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang khas di SD Muhammadiyah 13.

Suasana itu terlihat jelas ketika beberapa siswa kelas besar secara sukarela membantu teman kelas 1 yang mulai lelah, sementara guru-guru sesekali berhenti sejenak untuk memberi semangat dan memastikan semua tetap dalam barisan.

“Jusceri” sebagai Branding Positif Sekolah
SD Muhammadiyah 13 Surabaya memang dikenal dengan beragam program kreatif yang melibatkan siswa, mulai dari parade budaya, ekspresi talent, hingga kegiatan keagamaan dan sosial. Jusceri dengan tantangan 1.000 langkah ini menambah daftar inovasi sekolah dalam membangun citra positif sebagai lembaga yang peduli kesehatan, karakter, dan kegembiraan belajar.

Dengan rutinitas seperti ini, sekolah tidak hanya mencetak generasi yang sehat dan bugar, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, gotong royong, dan cinta aktivitas fisik—modal penting bagi anak-anak kota di tengah gaya hidup yang semakin sedenter.

(Rophy Pareno)