Aksi Kepedulian Anak SD Muhammadiyah 13 Surabaya: Keliling Kelas Kumpulkan Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kalimantan

Aksi Kepedulian Anak SD Muhammadiyah 13 Surabaya: Keliling Kelas Kumpulkan Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kalimantan
Foto : Penyaluran Donasi kepada Lazismu Surabaya

SURABAYA, FileNews.id - Suara riuh ceria di lorong SD Muhammadiyah 13 Surabaya pada Jumat pagi, 28 Agustus 2026, bukan sekadar tanda pelajaran dimulai. Suara itulah yang mengiringi langkah anak-anak IPM Kids — Ikatan Pelajar Muhammadiyah tingkat SD — saat mereka berkeliling dari kelas ke kelas untuk mengumpulkan donasi bagi korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kalimantan.


Dengan kotak amal sederhana dan ajakan yang dilontarkan dengan polos namun tegas, para pelajar cilik ini menggerakkan solidaritas seluruh warga sekolah. Hanya dalam satu hari, gerakan itu berhasil menghimpun Rp 1.747.000. Dana yang terkumpul kemudian diserahkan kepada Lazismu Kota Surabaya untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak gempa.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak dan Ibu wali murid yang berkenan berdonasi untuk keluarga kita yang ada di NTT dan Kalimantan. Semoga apa yang diberikan bermanfaat dan berkah bagi semuanya,” ujar Kepala SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Amang Muazam, setelah penyerahan dana berlangsung. Ia menambahkan bahwa kegiatan semacam ini merupakan upaya mendidik anak sejak dini tentang nilai empati dan tanggung jawab sosial.

Bagi Amang, praktek langsung seperti penggalangan dana bukan sekadar soal nominal yang terkumpul, melainkan pengalaman pendidikan karakter. “Menumbuhkan jiwa dermawan dan kepekaan sosial sejak kecil adalah investasi moral yang akan membentuk karakter anak-anak menjadi pribadi yang peduli pada sesama,” katanya.


Dua perwakilan IPM Kids, Calya dan Anin, tampak bangga saat memegang kotak donasi yang kini berisi hasil sumbangan teman-teman mereka. “Kami sangat bangga dan bersyukur bisa menyalurkan uang donasi dari teman-teman SD Muhammadiyah 13 Surabaya kepada Lazismu Kota Surabaya. Semoga amanah ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di NTT dan Kalimantan,” ungkap mereka bergantian, suara kecilnya memancarkan keikhlasan yang sederhana namun tulus.

Respon dari komunitas sekolah juga memperlihatkan resonansi sosial yang lebih luas. Para guru mendampingi siswa saat pengumpulan berlangsung, sedangkan wali murid merespons ajakan dengan sukarela memberi donasi. Langkah kolaboratif ini menggambarkan bagaimana institusi pendidikan dapat menjadi ruang pelatihan sosial — di mana nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan kepedulian dipraktikkan, bukan hanya diajarkan.

Kegiatan penggalangan dana oleh IPM Kids juga mengundang perhatian tentang peran anak dalam aksi kemanusiaan. Walau kontribusi ekonomi anak-anak terbatas, pengaruh simbolik dan edukatifnya besar: pengalaman memberi dapat memperkuat empati, memupuk rasa tanggung jawab, dan memperkaya pemahaman sosial mereka tentang bencana dan bantuan kemanusiaan.


Penyaluran melalui Lazismu Kota Surabaya dipilih untuk memastikan aliran bantuan terkoordinasi dan cepat sampai ke tangan korban. Dengan mekanisme yang jelas, donasi dari sekolah ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya bantuan yang terintegrasi, melengkapi bantuan pemerintah, lembaga lain, dan relawan di lapangan.

Kisah sederhana di SD Muhammadiyah 13 Surabaya ini mengingatkan bahwa aksi kolektif, sekecil apa pun, mampu menumbuhkan ikatan sosial yang kuat. Di tengah berita-berita bencana yang sering terasa jauh, langkah kecil anak-anak ini menunjukkan bahwa kepedulian bisa dimulai dari lingkungan terdekat — sebuah pelajaran penting tentang kemanusiaan yang dipraktikkan oleh generasi muda.


(Rophy Pareno)