39 Murid SD Muhammadiyah 13 Ikuti Penyisihan KSNR ke-8
SURABAYA, FileNews.id - Pagi itu, halaman SD Muhammadiyah 11 Surabaya dipenuhi suara langkah kecil, bisik-bisik tegang, dan doa singkat dari orang tua. Di balik raut wajah serius, terkembang pula senyum harap dari 39 siswa SD Muhammadiyah 13 Surabaya yang datang membawa satu tujuan: menguji kemampuan dan penalaran sains mereka di babak penyisihan Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) ke-8, Minggu (23/8/2026).
KSNR, inisiatif Klinik Pendidikan MIPA (KPM), dikenal sebagai arena bagi siswa SD untuk mengasah logika, penalaran, dan pemahaman konsep IPA melalui soal-soal yang menantang pemikiran kritis. Tahun ini, SD Muhammadiyah 13 mengirimkan peserta dari kelas 3 hingga kelas 6 setelah melalui seleksi ketat di tingkat sekolah—sebuah proses yang menurut kepala sekolah, Amang Muazam, bukan sekadar menilai prestasi akademik, melainkan juga menumbuhkan budaya belajar yang konsisten.
"Kami sangat bangga anak-anak bisa lanjut ke babak penyisihan. Ini menunjukkan dedikasi dan semangat belajar yang luar biasa dari para siswa," kata Amang, sambil memperhatikan rombongan murid yang berbaris rapi sebelum memasuki ruang ujian. Raut bangga itu mencerminkan kerja panjang antara murid, guru, dan orang tua sejak awal tahun ajaran.
Di balik angka 39 peserta itu, ada persiapan intensif yang dilakukan tim pengajar. Enny Istania, guru pendamping, menceritakan rutinitas latihan yang membiasakan siswa dengan pola soal KSNR: latihan penalaran, simulasi ujian, dan diskusi konsep IPA sederhana agar soal yang tampak rumit menjadi lebih terjangkau. "Anak-anak berlatih mengerjakan soal-soal KSNR agar mereka lebih terbiasa dengan tipe soal penalaran sains," ujar Enny. Menurutnya, pendekatan yang menekankan proses berpikir membantu siswa tetap tenang saat menghadapi soal yang membutuhkan interpretasi, bukan sekadar hafalan.
Dukungan orang tua terlihat nyata di tepian ruang ujian. Para wali murid menunggu sambil memberi semangat, membisikkan doa, dan sesekali merekam momen anak-anak mereka berjalan memasuki arena seleksi. Kehadiran tersebut, kata beberapa guru, memberi efek menenangkan sekaligus memacu semangat anak untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Bagi pihak sekolah, partisipasi dalam KSNR lebih dari sekadar berburu piala. Amang menegaskan, pengalaman kompetisi menjadi media pembelajaran penting yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap sains di usia dini. Ke depan, sekolah berharap capaian ini dapat membuka peluang bagi siswa menembus babak berikutnya serta mendorong pembelajaran sains yang lebih kreatif dan aplikatif di lingkungan sekolah.
Saat bel tanda berakhir ujian berbunyi, wajah-wajah kecil itu muncul kembali—ada yang tersenyum lega, ada pula yang tampak serius menganalisis jawaban di kepala.
Terlepas dari hasil, bagi banyak orang di SD Muhammadiyah 13 Surabaya, hari itu menjadi bukti bahwa semangat belajar kolektif, persiapan matang, dan dukungan komunitas mampu menghadirkan momentum penting dalam perjalanan pendidikan anak-anak.
(Rophy Pareno)


