Menjaga Gizi Keluarga saat Anggaran Terhimpit: Kolaborasi TPK dan Resep Lokal Cegah Stunting di Kabupaten Mojokerto
KAB. MOJOKERTO, FileNews.id - Pagi itu di sebuah sudut pedesaan Jawa Timur, Mas Imam tampak melamun di atas amben bambu di bawah rindangnya pohon halaman rumah. Sambil memegang ponselnya, matanya tertahan pada unggahan video makanan mewah yang melintas di linimasa. Sensasi lezat seolah menggoda indera pengecapnya, hingga ia tak sadar putra kecilnya, Nanda, sibuk bermain mobil-mobilan di tanah.
Khayalan santapan lezat itu mendadak bubar ketika sang istri, Mbak Tun, keluar dari dalam rumah sembari melambaikan dompet dengan raut muka panik. "Paaak... kita bokek!" seru Mbak Tun. Saat isi dompet dibuka, tidak ada lembaran rupiah bernominal besar—hanya kepingan uang receh, struk belanja lama, dan kartu member. Di tengah kepanikan ekonomi keluarga kecil itu, Nanda menghampiri sang ayah sembari meringis memegang perutnya yang lapar. Sebuah potret dinamika kehidupan sehari-hari yang sangat dekat dengan realitas sebagian masyarakat kita: bagaimana menjaga dapur tetap ngebul dan bergizi di tengah impitan ekonomi?
Bukan Cuma Soal Uang: Kolaborasi TPK dan Resep Cegah Stunting
Kepanikan pasangan suami istri tersebut menemui titik terang saat Mbak Ningsih, seorang petugas Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang juga tetangga mereka, datang berkunjung membawa tas berisi bahan makanan segar.
Mbak Ningsih datang tidak sekadar mendata, tetapi membawa misi penting edukasi pencegahan stunting pada keluarga rawan. Di tengah kelakar Mas Imam yang berseloroh status ekonominya berada di "desil minus satu", Mbak Ningsih meluruskan kekeliruan umum di masyarakat: bahwa makanan sehat dan bergizi tidak harus mahal.
"Kebutuhan gizi sampeyan dan anak-anak tetap harus diperhatikan, jangan sampai kurang. Makanan bergizi itu tidak mesti mahal," ujar Mbak Ningsih menenangkan.
Ia memaparkan bahwa ancaman stunting tidak semata-mata dipicu oleh keterbatasan modal uang, melainkan keterikatan tiga elemen utama: pola asuh, pola makan, dan lingkungan. Edukasi ini juga menjadi teguran hangat bagi para ayah. Peran kepala keluarga sangat krusial, salah satunya dengan menekan belanja rokok. Paparan asap rokok berbahaya bagi ibu hamil seperti Mbak Tun dan anak-anak. Penghematan dari alokasi rokok dialihkan langsung untuk pemenuhan gizi harian.
Tantangan utama yang sering dihadapi ibu rumah tangga adalah mengatur belanja mingguan yang amat terbatas. Mbak Ningsih membagikan strategi cerdas: memanfaatkan tanaman atau hasil rambanan di sekitar rumah, memilih bahan pangan kaya protein lokal seperti telur, tahu, tempe, serta mengolah bahan untuk beberapa kali penyajian.
Tak hanya edukasi verbal, kehangatan sosial juga mewarnai penyelesaian masalah ini. Melalui dukungan dana sosial Ibu-ibu Dasa Wisma PKK, Mbak Ningsih menyerahkan bantuan paket bahan makanan segar untuk diolah bersama. Sinergi di dapur pun tercipta. Mbak Tun dan Mbak Ningsih sibuk meracik bumbu dan mengolah bahan baku di dapur, sementara Mas Imam mengambil peran mengasuh sang anak di luar. Dari olahan tangan sederhana tersebut, terciptalah menu kaya gizi anti-stunting yang siap disantap seluruh anggota keluarga.
Mengutip panduan resep pangan lokal cegah stunting yang diperagakan dalam kegiatan pendampingan keluarga tersebut, berikut beberapa sajian bernutrisi tinggi yang mudah dipraktikkan di rumah:
1. Ibu Hamil: Rolade Ayam & Sup Bening Segar
Nutrisi: Kaya akan protein hewani untuk menunjang tumbuh kembang janin.
Olahan: Daging dada/paha ayam digiling halus bersama bumbu bawang, telur, dan maizena, lalu dibungkus adonan kulit telur tebal dan dikukus. Disajikan bersama sup bening kaya serat dari potongan wortel, buncis, jagung manis, dan tomat.
2. Balita (1–5 Tahun): Nugget Ayam Sayur & Tahu Kuah Kuning
Nutrisi: Menggabungkan protein dan serat yang disukai anak-anak.
Olahan: Olahan gilingan ayam yang memadukan parutan wortel dan daun bawang, dikukus lalu dibalur tepung panir sebelum digoreng renyah. Dipadukan dengan tahu dadu dan buncis berkuah santan bumbu kuning yang gurih alami.
3. Bayi (9–12 Bulan): Asem-Asem Patin Tahu & Sayuran
Nutrisi: Kaya asam lemak omega-3 dari ikan air tawar serta mineral penting.
Olahan: Potongan ikan patin segar dan tahu dimasak dalam kuah bening aromatik berrempah (serai, lengkuas, kunyit, asam jawa) bersama irisan buncis dan wortel lembut.
Saat makanan telah tersaji hangat di meja makan, senyum lega terpancar dari wajah Mas Imam dan Mbak Tun. Santapan sederhana yang diolah dengan pengetahuan gizi yang tepat terbukti tak kalah lezat dan menyehatkan.
Melalui gerakan pendampingan berbasis komunitas seperti Dasa Wisma dan TPK, ketahanan gizi keluarga tidak lagi menjadi beban tunggal para ibu di Kabupaten Mojokerto. Dengan kepedulian lingkungan, edukasi yang tepat, serta kesadaran peran ayah di rumah, impian mewujudkan generasi bebas stunting dapat dicapai dari meja makan rumah sederhana.
Dalam closing statement yang penuh semangat, Hj. Shofia Hanak Al Bara, Lc., Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto, menyampaikan pesan penting melalui pantun dan seruan aksi:
"Pergi ke pasar membeli ikan,
Ikan segar banyak gizi,
Mari cegah stunting kita galakkan,
Anak sehat senang di hati."
"Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita yang disebabkan karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang berlangsung sejak dalam kandungan sampai usia dua tahun atau kita sebut dengan seribu HPK (Hari Pertama Kehidupan)," jelas Hj. Shofia Hanak Al Bara.
Ia menekankan bahwa balita yang mengalami stunting ditandai dengan tinggi badan dibandingkan dengan usia berada di bawah garis merah, sehingga terlihat lebih pendek dari anak seusianya. Hal ini mengakibatkan kecerdasan yang tidak optimal serta munculnya risiko penyakit kronis.
"Kekurangan gizi pada balita bisa dicegah melalui pemberian makanan dengan konsep B2SA: Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman yang disesuaikan dengan kebutuhan kalori dan usia anak," tambahnya.
Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengatasi kekurangan gizi pada ibu hamil dan balita melalui pembiasaan makanan beragam, bergizi, seimbang, dan aman dalam "Isi Piringku" dengan berbahan dasar lokal. Makanan bergizi seimbang dengan isi piringku adalah susunan makanan sebagai pedoman porsi makan gizi seimbang yang terdiri dari sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang beragam dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
"Berbahan dasar lokal adalah sumber makanan yang bisa kita dapatkan dari lingkungan sekitar kita. DAHSAT—Dapur Sehat Atasi Stunting. Mari bergerak bersama, kita cegah stunting dengan pembiasaan makanan bergizi seimbang Isi Piringku pada ibu hamil dan balita. Ingat... Cegah stunting itu penting! Makanan sehat tidak harus mahal," pungkas Hj. Shofia Hanak Al Bara dengan tegas.
Kegiatan tersebut berupa produksi video sosialisasi pencegahan stunting yang dipersembahkan oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Mojokerto melalui Dinas Kominfo Kabupaten Mojokerto yang berlangsung di Desa Punggul, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Adapun pelaksana produksi video sosialisasi tersebut dikerjakan oleh rumah produksi Hero Productions Surabaya. Pelaksanaan produksi video ini berlangsung pada hari Selasa (22/09/2026) yang melibatkan berbagai pihak, pemain lokal, Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan tentunya Pemerintah Desa Dlanggu beserta warga setempat.
(Rophy Pareno)


