Indonesia Emas, Anak Muda yang Cemas (oleh: M. Isa Ansori Kolumnis, Dosen dan Praktisi Psikologi Komunikasi, Transaksional Analisis, Founder Pusspar ICMI Jatim, Pengurus LPA Jatim dan Dewan Penasehat LHKP PD Muhammadiyah Surabaya)
SURABAYA,FileNews.id-Dari kegelisahan tentang nasib generasi muda menuju tanggung jawab bersama membangun manusia yang mandiri, berdaya, dan bahagia_
Belakangan ini ada satu pertanyaan yang semakin sering mengganggu pikiran saya: mengapa di tengah begitu banyak pembicaraan tentang masa depan, kita justru semakin perlu bertanya apakah anak-anak muda kita baik-baik saja?
Kita sedang menyiapkan Indonesia Emas. Kita berbicara tentang bonus demografi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, sumber daya manusia unggul, dan cita-cita menjadi negara maju. Semuanya penting. Saya pun ingin melihat anak-anak muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, mandiri, produktif, dan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
Tetapi, ada sesuatu yang terasa belum selesai dalam percakapan besar itu. Kita begitu bersemangat membicarakan apa yang harus dicapai generasi muda, sementara pertanyaan tentang apa yang sedang mereka rasakan belum memperoleh tempat yang sepadan.
Apakah mereka memiliki cukup kesempatan untuk tumbuh? Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka mempunyai ruang untuk gagal tanpa kehilangan kepercayaan diri? Apakah mereka bisa membayangkan masa depan tanpa dihantui ketakutan bahwa hidupnya akan selalu tertinggal dari orang lain?
Awalnya, semua itu hanya kegelisahan pribadi. Saya melihat kehidupan anak-anak muda di sekitar kita, mendengar cerita tentang sulitnya memperoleh pekerjaan, menyaksikan tuntutan hidup yang semakin berlapis, dan merasakan betapa beratnya menjadi dewasa di tengah dunia yang bergerak begitu cepat.
Saya tidak ingin tergesa-gesa menyimpulkan bahwa generasi sekarang lebih lemah daripada generasi sebelumnya. Setiap zaman memiliki kesulitannya sendiri. Generasi terdahulu berjuang melawan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, dan ketidakpastian hidup. Generasi sekarang menghadapi persoalan yang berbeda, meskipun sebagian beban lama masih mereka warisi.
Yang membuat saya terusik justru kemungkinan bahwa kita sedang mewariskan cita-cita besar kepada anak-anak muda, tanpa cukup memastikan bahwa mereka memiliki bekal psikologis, sosial, dan ekonomi untuk menjalaninya.
Kegelisahan itu kemudian berubah ketika saya menemukan data. Rupanya, pertanyaan yang semula terasa pribadi memiliki gema yang jauh lebih luas.
Ada sesuatu yang perlu kita dengarkan
Laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 memberikan gambaran yang tidak bisa kita abaikan. Sekitar 34,9 persen remaja Indonesia berusia 10–17 tahun, setara dengan sekitar 15,5 juta anak, mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan yang diteliti. Sekitar 5,5 persen, atau 2,45 juta remaja, memenuhi kriteria gangguan mental dalam periode yang sama. Kecemasan menjadi salah satu persoalan utama yang ditemukan dalam survei tersebut.
Saya berhenti cukup lama pada angka itu.
Lima belas juta lebih anak bukan sekadar angka dalam laporan penelitian. Mereka adalah anak-anak yang tinggal bersama kita, duduk di bangku sekolah, tumbuh di kampung dan perumahan, belajar di pesantren, mengakses telepon genggam, bercengkerama dengan teman-temannya, dan perlahan-lahan mencoba memahami kehidupan.
Sebagian mungkin tampak baik-baik saja. Mereka tetap masuk sekolah, tertawa, bermain, dan mengunggah foto di media sosial. Namun, penampilan yang terlihat dari luar tidak selalu menjelaskan apa yang sedang berlangsung di dalam diri seseorang.
Yang lebih mengkhawatirkan, survei I-NAMHS juga menemukan bahwa hanya sekitar 2,6 persen remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling untuk masalah emosional dan perilaku dalam 12 bulan yang diteliti.
Artinya, ada jarak yang lebar antara kebutuhan dan pertolongan. Bisa jadi seseorang tidak mengetahui ke mana harus meminta bantuan. Bisa jadi keluarga menganggap persoalan itu akan selesai dengan sendirinya. Bisa pula rasa malu, stigma, keterbatasan layanan, atau kekhawatiran akan penilaian orang lain membuat anak memilih diam.
Di sinilah saya mulai merasa bahwa persoalan ini bukan semata-mata urusan anak dan keluarganya. Ada sesuatu dalam cara kita membangun lingkungan sosial yang perlu diperiksa kembali.
WHO memperkirakan sekitar satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun di dunia mengalami gangguan mental. WHO juga mengingatkan bahwa persoalan kesehatan mental yang tidak tertangani dapat berlanjut hingga usia dewasa dan memengaruhi kemampuan seseorang menjalani kehidupan secara utuh.
Angka global itu tidak berarti setiap anak muda sedang mengalami krisis. Tetapi, ia mengingatkan kita bahwa persoalan kesejahteraan psikologis bukan kejadian terpencil, bukan pula sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh anak muda lebih bersyukur, lebih sabar, atau lebih rajin beribadah.
Syukur, kesabaran, dan kekuatan spiritual tentu penting. Namun, anak yang mengalami tekanan juga membutuhkan orang dewasa yang mau mendengar. Anak yang mengalami perundungan membutuhkan perlindungan. Anak yang kehilangan arah membutuhkan pendampingan. Dan anak yang mengalami gangguan kesehatan mental membutuhkan akses kepada tenaga profesional.
Kita tidak boleh mempertentangkan kekuatan batin dengan pertolongan nyata. Keduanya justru perlu berjalan bersama.
Ketika menjadi dewasa terasa seperti perlombaan
Saya semakin memahami bahwa kecemasan anak muda tidak dapat dilepaskan dari situasi kehidupan yang mereka hadapi.
Hari ini, seorang anak muda tidak hanya dituntut belajar dan bekerja. Ia juga harus pandai menampilkan dirinya, membangun jejaring, mengikuti perubahan teknologi, menjaga penampilan, dan menunjukkan bahwa kehidupannya bergerak maju. Media sosial membuat semua itu berlangsung di ruang yang nyaris tanpa jeda.
Setiap hari mereka bisa melihat keberhasilan orang lain. Teman yang memperoleh pekerjaan bagus. Kawan yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Orang yang seusia dengannya membangun usaha, membeli rumah, menikah, atau mencapai sesuatu yang selama ini hanya menjadi impian.
Melihat keberhasilan orang lain sebenarnya tidak selalu buruk. Ia dapat menjadi sumber inspirasi. Masalah muncul ketika keberhasilan itu berubah menjadi ukuran tunggal untuk menilai harga diri.
Anak muda kemudian bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa saya belum sampai di sana? Apa yang salah dengan saya? Mengapa usaha saya belum menghasilkan sesuatu yang bisa dibanggakan?
Pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi, jika berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, ia dapat menggerogoti kepercayaan diri.
Kita hidup dalam masyarakat yang mudah mengagumi hasil, tetapi sering tidak sabar menyaksikan proses. Kita memuji mereka yang berhasil, tetapi tidak selalu menyediakan ruang yang aman bagi mereka yang sedang berjuang.
Padahal, tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada anak muda yang memiliki keluarga dengan dukungan ekonomi kuat. Ada yang harus bekerja sambil belajar. Ada yang memikul tanggung jawab membantu orang tua. Ada yang tinggal di wilayah dengan akses pendidikan dan pekerjaan terbatas. Ada pula yang harus menghadapi persoalan keluarga yang tidak pernah diketahui orang lain.
Meminta semua anak muda mencapai keberhasilan pada waktu yang sama, dengan ukuran yang sama, tanpa memperhitungkan perbedaan kesempatan, bukanlah dorongan untuk maju. Itu bisa berubah menjadi tekanan yang tidak adil.
Saya kira kita perlu belajar membedakan antara mendorong anak muda agar berkembang dan memaksa mereka terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.
Mereka membutuhkan tantangan, tetapi juga membutuhkan penerimaan. Mereka perlu belajar bertanggung jawab, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk melakukan kesalahan. Mereka perlu dibimbing agar mandiri, tetapi tidak boleh dipermalukan ketika masih membutuhkan bantuan.
Data pekerjaan mengingatkan kita pada persoalan yang lebih luas
Kegelisahan tentang kesejahteraan anak muda juga membawa saya pada persoalan kesempatan hidup.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025, sebanyak 19,44 persen penduduk Indonesia berusia 15–24 tahun termasuk kelompok NEET, yakni mereka yang tidak bekerja, tidak sedang bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Di Jawa Timur, angkanya mencapai 16,76 persen.
Angka ini memang bukan ukuran kebahagiaan. Kelompok NEET juga tidak identik dengan pengangguran terbuka, sebab definisinya mencakup orang yang berada di luar pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan. Di dalamnya bisa terdapat beragam situasi, termasuk tanggung jawab pengasuhan, keterbatasan akses, atau hambatan lain untuk memasuki dunia kerja dan pendidikan.
Namun, data ini mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak anak muda yang belum menemukan jalan untuk mengembangkan potensinya?
Berapa banyak yang telah menyelesaikan pendidikan, tetapi masih kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai? Berapa banyak yang ingin melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan, tetapi terbentur biaya dan akses? Berapa banyak yang sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi tidak mempunyai jejaring atau kesempatan untuk membuktikannya?
Kita tidak boleh menjawab semua persoalan itu dengan kalimat, “Anak muda sekarang kurang berusaha.”
Tentu, kemauan, disiplin, dan ketekunan tetap penting. Tetapi, kerja keras tidak selalu menghasilkan kesempatan yang sama bagi setiap orang. Ada persoalan yang harus diselesaikan melalui kebijakan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, penguatan keterampilan, pemerataan akses, dan hubungan yang lebih baik antara dunia pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
Anak muda perlu didorong untuk mandiri, tetapi kemandirian tidak tumbuh hanya karena kita meminta mereka berdiri sendiri. Kemandirian memerlukan pijakan: pengetahuan, keterampilan, kesempatan, jejaring, dan lingkungan yang memberi ruang untuk mencoba.
Jika kita ingin mereka menjadi generasi produktif, kita harus membuka jalan bagi produktivitas itu. Jika kita ingin mereka berwirausaha, kita perlu membantu mereka mengakses keterampilan, pendampingan, pasar, dan pembiayaan yang sesuai. Jika kita ingin mereka memperoleh pekerjaan yang layak, kita perlu memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar menghadirkan kesempatan yang dapat dijangkau.
Tidak adil meminta anak muda berlari lebih cepat jika sebagian dari mereka bahkan belum memiliki jalan yang cukup terbuka.
Jangan buru-buru menyalahkan generasi
Ada kebiasaan yang perlu kita periksa: setiap kali muncul persoalan pada generasi muda, kita segera membandingkan mereka dengan generasi sebelumnya.
Anak sekarang dianggap kurang tahan banting. Terlalu banyak bermain gawai. Terlalu sensitif. Kurang menghormati orang tua. Tidak tahan menghadapi tekanan. Bahkan, ketika mereka menyampaikan kecemasan, keluhan itu terkadang dianggap sebagai tanda kelemahan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua kritik terhadap perilaku anak muda keliru. Tentu ada kebiasaan yang perlu diperbaiki, ada disiplin yang perlu dibangun, dan ada tanggung jawab yang harus mereka pelajari.
Tetapi, mendidik tidak sama dengan menghakimi. Memahami bukan berarti membenarkan semua perilaku. Mendampingi bukan berarti membiarkan anak hidup tanpa batas.
Kita dapat menegakkan disiplin sekaligus menjaga martabat. Kita dapat meminta tanggung jawab tanpa merendahkan. Kita dapat mengajarkan ketangguhan tanpa menganggap bahwa orang yang sedang rapuh tidak pantas mendapat pertolongan.
Saya teringat pada prinsip sederhana dalam hubungan antarmanusia: saya berharga, Anda juga berharga. Dalam pendekatan analisis transaksional, semangat I'm OK, You're OK mengajak kita membangun relasi yang tidak menempatkan satu pihak lebih tinggi dengan merendahkan pihak lain.
Anak muda perlu belajar bahwa dirinya memiliki tanggung jawab atas pilihan hidupnya. Tetapi, orang dewasa juga perlu menyadari bahwa cara kita berbicara, memberi penilaian, dan memperlakukan mereka dapat memengaruhi cara mereka memandang dirinya sendiri.
Mungkin yang perlu kita wariskan bukan hanya nasihat tentang bagaimana menjadi kuat, tetapi juga pengalaman bahwa meminta bantuan bukanlah aib; bahwa kegagalan bukan akhir dari harga diri; dan bahwa seseorang tetap layak dihormati ketika sedang berusaha bangkit.
Dari kegelisahan pribadi menjadi tanggung jawab bersama
Pada titik ini, kegelisahan saya tidak lagi berhenti pada pertanyaan mengapa anak muda tampak semakin cemas. Saya justru mulai bertanya: apa yang bisa kita kerjakan bersama agar mereka tidak harus menghadapi kehidupan sendirian?
Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada keluarga, sekolah, pesantren, masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Tidak satu pun dapat menyelesaikan persoalan ini sendirian.
Keluarga perlu menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita. Bukan berarti semua keinginan anak harus dituruti, melainkan setiap persoalan dapat dibicarakan tanpa ketakutan akan penghinaan atau kekerasan.
Sekolah perlu menjadi tempat bertumbuh, bukan sekadar tempat mengejar angka. Pendidikan harus mengembangkan kecerdasan, kemauan, dan kepekaan. Anak perlu belajar menyelesaikan persoalan, bekerja sama, mengelola emosi, menerima perbedaan, dan menghargai proses.
Pesantren dan komunitas keagamaan dapat memperkuat dukungan spiritual sekaligus membangun hubungan sosial yang hangat. Nilai agama akan semakin terasa ketika hadir dalam tindakan: melindungi yang lemah, mendengarkan yang sedang kesulitan, dan menjaga martabat manusia.
Masyarakat perlu menyediakan ruang bagi anak muda untuk terlibat, berkarya, dan berkontribusi. Jangan hanya mengundang mereka ketika kita membutuhkan tenaga dalam kegiatan. Libatkan mereka dalam merancang program, mengidentifikasi persoalan, dan menentukan solusi bagi lingkungannya sendiri.
Pemerintah, sementara itu, harus memastikan bahwa layanan pendidikan, kesehatan, kesehatan mental, perlindungan anak, pelatihan, dan kesempatan kerja terhubung dalam kebijakan yang benar-benar dapat diakses.
Kita membutuhkan sistem yang tidak menunggu persoalan menjadi parah sebelum bertindak. Kita perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat, kesulitan belajar, perundungan, atau tekanan lain yang dialami anak. Pengenalan dini harus diikuti pendampingan yang tepat, dengan menjaga privasi dan menghindari pelabelan.
Yang paling penting, kita perlu berhenti menganggap kesejahteraan psikologis sebagai urusan tambahan setelah kebutuhan ekonomi terpenuhi. Keduanya saling berhubungan. Anak muda yang memiliki kesempatan berkembang dan dukungan sosial akan lebih mungkin membangun kehidupan yang sehat. Sebaliknya, kesulitan ekonomi, keterasingan, dan tekanan berkepanjangan dapat membuat jalan menuju kemandirian semakin berat.
Pusppar: dari data menuju perubahan
Dalam konteks Jawa Timur, saya melihat ruang bagi Pusat Studi Perubahan Perilaku Anak dan Remaja (Pusppar) ICMI Jawa Timur untuk mengambil bagian secara lebih terarah.
Bagi saya, Pusppar tidak cukup hanya menjadi ruang diskusi tentang anak dan remaja. Ia perlu menjadi jembatan antara pengetahuan dan tindakan, antara data dan kebutuhan nyata, antara kegelisahan masyarakat dan intervensi yang dapat diukur hasilnya.
Langkah pertama adalah menyusun peta kesejahteraan anak dan remaja. Peta ini perlu menggambarkan persoalan sekaligus potensi yang ada di berbagai wilayah Jawa Timur. Kita perlu mengetahui di mana anak menghadapi hambatan pendidikan, di mana kesempatan kerja bagi anak muda masih terbatas, di mana dukungan keluarga membutuhkan penguatan, serta layanan apa yang belum mudah dijangkau.
Langkah kedua ialah merancang intervensi berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar menjalankan program yang seragam. Anak yang mengalami perundungan membutuhkan perlindungan. Keluarga yang kesulitan membangun komunikasi membutuhkan pendampingan pengasuhan. Anak muda yang kehilangan akses pendidikan membutuhkan jalan untuk kembali belajar. Mereka yang kesulitan memasuki dunia kerja membutuhkan pelatihan dan hubungan dengan kesempatan ekonomi. Mereka yang mengalami masalah kesehatan mental perlu mendapatkan dukungan yang sesuai, termasuk rujukan profesional apabila diperlukan.
Langkah ketiga ialah mengembangkan ekosistem pertumbuhan yang membahagiakan melalui keluarga, sekolah, pesantren, kampung, kampus, dan dunia usaha. Anak muda harus memperoleh ruang untuk berlatih mengambil keputusan, bekerja sama, mengembangkan kreativitas, dan membuktikan kemampuan melalui kegiatan yang nyata.
Langkah keempat ialah membangun laboratorium kemandirian. Pusppar dapat mempertemukan anak muda dengan mentor, perguruan tinggi, pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah. Tujuannya bukan sekadar melatih mereka agar siap bersaing, tetapi juga membantu mereka menemukan bidang yang dapat dikembangkan menjadi karya, pekerjaan, usaha, dan kontribusi sosial.
Langkah kelima ialah mengukur hasil. Kita tidak cukup menghitung jumlah seminar, peserta pelatihan, atau kegiatan yang terlaksana. Kita perlu mengetahui apakah anak muda mendapatkan akses baru, apakah keluarga menjadi lebih suportif, apakah peserta pelatihan berhasil mengembangkan keterampilan, apakah layanan bantuan semakin mudah dijangkau, dan apakah program benar-benar menjawab persoalan yang ditemukan.
Pusppar tentu tidak dapat bekerja sendirian. Ia perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah, sekolah, pesantren, perguruan tinggi, layanan kesehatan, lembaga perlindungan anak, dunia usaha, dan komunitas. Peran Pusppar adalah membantu menyatukan pengetahuan, memetakan kebutuhan, mengembangkan model intervensi, dan memastikan bahwa upaya perubahan memiliki arah serta ukuran keberhasilan yang jelas.
Saya membayangkan Jawa Timur memiliki ekosistem yang membuat anak muda tidak hanya dituntut menjadi tangguh, tetapi juga diberi kesempatan untuk tumbuh. Sebuah ekosistem yang mengenali persoalan lebih dini, menyediakan bantuan tanpa stigma, membuka kesempatan produktif, dan menjaga agar tidak ada anak yang merasa dirinya tidak lagi memiliki tempat.
Itulah cara menjadikan kegelisahan sebagai kerja bersama.
Indonesia Emas harus dimulai dari manusia yang merasa berharga
Pada akhirnya, saya kembali kepada pertanyaan awal: untuk apa kita menyiapkan Indonesia Emas jika sebagian anak mudanya merasa begitu berat menjalani hari ini?
Pertanyaan ini bukan penolakan terhadap cita-cita besar bangsa. Justru sebaliknya. Saya ingin cita-cita itu memiliki dasar yang lebih kuat, yaitu manusia yang sungguh-sungguh memperoleh manfaat dari pembangunan.
Indonesia Emas tidak boleh hanya berarti ekonomi yang tumbuh, teknologi yang maju, atau daya saing yang meningkat. Ia juga harus berarti anak-anak yang terlindungi, remaja yang memiliki ruang untuk bertumbuh, keluarga yang mampu memberi dukungan, serta anak muda yang memiliki kesempatan untuk hidup mandiri dan bermartabat.
Kita memang tidak dapat menghapus seluruh kecemasan dari kehidupan. Setiap orang akan menghadapi kegagalan, kehilangan, ketidakpastian, dan perubahan. Namun, kita dapat membangun masyarakat yang tidak membiarkan seseorang menghadapi semuanya sendirian.
Kita dapat menciptakan keluarga yang mau mendengar, sekolah yang menghargai proses, lingkungan yang tidak gemar mempermalukan, serta kebijakan yang membuka jalan bagi mereka yang selama ini kesulitan memperoleh kesempatan.
Bagi saya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya berapa banyak anak muda yang mampu memenangkan persaingan, melainkan juga berapa banyak yang mendapatkan kesempatan untuk ikut bertanding; bukan hanya berapa banyak yang mencapai puncak, melainkan juga apakah kita menyediakan jalan bagi mereka yang sedang tertatih.
Sebab, generasi unggul tidak lahir dari tekanan tanpa batas. Ia tumbuh dari perpaduan antara disiplin dan kasih sayang, antara tuntutan dan dukungan, antara kebebasan dan tanggung jawab, serta antara kesempatan dan kemauan untuk berusaha.
Kini, kegelisahan itu terasa bukan lagi milik saya sendiri. Data memberi nama pada sebagian kekhawatiran tersebut. Cerita keluarga, persoalan pendidikan, kesulitan memasuki dunia kerja, dan kebutuhan akan dukungan psikologis membuat kita menyadari bahwa ada pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama.
Kita tidak perlu menunggu sampai persoalan menjadi semakin berat untuk mulai bertindak. Kita dapat memulainya dari rumah, sekolah, kampung, pesantren, tempat kerja, organisasi, dan kebijakan publik yang lebih berpihak pada tumbuh kembang manusia.
Saya percaya, anak muda tidak meminta dunia yang selalu mudah. Mereka hanya membutuhkan dunia yang memberi kesempatan, lingkungan yang mau memahami, dan masa depan yang masih layak diperjuangkan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan mereka untuk memenangkan masa depan, tetapi lupa memastikan bahwa mereka masih memiliki alasan untuk mencintai kehidupan hari ini.
Sebab, Indonesia Emas bukan hanya tentang generasi muda yang mampu memenangkan persaingan dunia. Indonesia Emas adalah tentang generasi muda yang tumbuh dengan martabat, memiliki daya untuk menentukan masa depannya, dan tidak kehilangan harapan di tengah perjalanan.
(Rophy Pareno)


