Festival Bulan Sawunggaling Capai Puncak: Jemparingan dan Pawai Budaya Hidupkan Jejak Legenda Surabaya

Festival Bulan Sawunggaling Capai Puncak: Jemparingan dan Pawai Budaya Hidupkan Jejak Legenda Surabaya
Foto : Meriahnya Festival Sawunggaling di kawasan Lidah Wetan Surabaya

SURABAYA, FileNews.id - Di bawah langit pagi Lidah Wetan, Lakarsantri, busur dan anak panah menjadi bukan sekadar alat perlombaan. Mereka menghadirkan kembali satu nama yang telah lama melekat pada sejarah Surabaya: Raden Sawunggaling. 

Festival Bulan Sawunggaling 2026 mencapai puncaknya pada Minggu, 18 Oktober 2026, dengan jemparingan, pawai budaya, dan pertunjukan seni yang menghidupkan warisan tokoh legenda Kota Pahlawan itu.

Rangkaian puncak festival dimulai pukul 06.30 WIB, berpusat di kawasan Cagar Budaya Makam Raden Sawunggaling hingga Lapangan Poral atau SSB Mitra Surabaya, Lidah Wetan. Dua agenda utamanya adalah Sayemboro Jemparingan Adipati Raden Sawunggaling Piala Wali Kota Surabaya 2026 dan pawai budaya bertajuk Angkat Budaya R. Sawunggaling.

Panahan yang Menanam Karakter
Jemparingan, tradisi memanah khas Jawa, menjadi pusat perhatian pagi itu. Bagi para peserta, ketepatan bidikan bukanlah satu-satunya ukuran. Tradisi ini menuntut konsentrasi, pengendalian diri, dan ketekunan—nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran peserta lintas usia menegaskan bahwa jemparingan bukan warisan yang kaku di ruang museum. Ia menjadi pengalaman langsung bagi generasi muda untuk mengenal tradisi, bukan hanya melalui cerita, melainkan melalui tarikan napas, fokus, dan lepasnya anak panah.

Mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini turut hadir dan melakukan pemotongan tumpeng pembukaan acara jemparingan. Kehadirannya menambah kehangatan bagi peserta dan warga yang memadati lokasi.

Pawai yang Membawa Cerita
Setelah jemparingan, kawasan makam berubah menjadi titik awal Pawai Budaya Salam Suroboyo. Para peserta bergerak menuju Lapangan Poral, diiringi kelompok seni dan budaya. Prosesi pembukaannya pun sarat simbol: setelah penampilan musik dan suluk, tamu undangan menyerahkan busur panah sebagai penanda dimulainya pawai.

Sepanjang rute, setiap kelompok menampilkan mini teatrikal bertema Salam Suroboyo yang dinilai dewan juri di Balai RW 2 Lidah Wetan. Salah satu juri, Diyah Ratnasari, menyampaikan antusiasmenya terhadap perhelatan tersebut.
“Acara ini perlu dipertahankan setiap tahunnya, untuk tetap mengangkat semangat Sawunggaling,” ujar Diyah.

Pesan yang paling menggema di sepanjang pawai adalah seruan khas: “Ojok Ngaku Arek Suroboyo, Lek gak kenal Mbah Sawunggaling.” Kalimat itu bukan sekadar slogan. Ia menjadi pengingat bahwa identitas Surabaya tidak dapat dilepaskan dari kisah dan jejak tokoh-tokoh lokalnya.

Seni sebagai Jembatan Sejarah
Ketibaan peserta di Lapangan Poral menandai lanjutan perayaan. Mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menampilkan Tari Ngrekso Sawunggaling, sementara Mulyadi atau Cak Mul, Ketua Paguyuban Sawunggaling, membawakan suluk Sawunggaling.

Festival ini terselenggara melalui kerja sama dengan Program Studi Bahasa Indonesia dan tim PKM Kampung Pancasila Unesa. Puncak acara ditutup dengan pengumuman dan penyerahan hadiah bagi pemenang Festival Salam Suroboyo.

Pemilihan Lidah Wetan sebagai pusat kegiatan memiliki alasan historis. Kawasan ini menyimpan keterkaitan dengan Raden Sawunggaling, termasuk makam yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Di persimpangan jalan, patung ayam jago dikenal masyarakat sebagai tetenger atau penanda petilasan tokoh tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Heri Purwadi, menjelaskan bahwa sebagian besar peninggalan yang dikaitkan dengan Sawunggaling berada di Lidah Wetan. Karena itu, festival diposisikan sebagai sarana memperkenalkan kembali kisah lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Lebih dari Sekadar Festival
Festival Bulan Sawunggaling berlangsung sejak 4 hingga 18 Oktober 2026. Sebelum puncak acara, telah digelar pengajian, doa bersama di Makam Sawunggaling, sarasehan budaya, haul akbar, dan berbagai agenda lainnya.

Ketua Pelaksana Onyenk menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kemeriahan festival.
“Keberlanjutan warisan Sawunggaling tidak cukup hanya bergantung pada kemeriahan festival tahunan. Dokumentasi sejarah, pengenalan cerita rakyat yang bertanggung jawab, serta pemeliharaan situs dan penanda budaya tetap dibutuhkan agar jejak masa lalu tidak sekadar menjadi seremonial,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi catatan penting: festival memang mampu menghadirkan semangat, tetapi keberlanjutan warisan membutuhkan kerja yang lebih panjang. Dokumentasi, pendidikan publik, perawatan situs, dan ruang diskusi sejarah harus terus berjalan di luar agenda tahunan.

Melalui jemparingan, pawai, tari, dan suluk, Festival Bulan Sawunggaling menghadirkan sejarah dalam bentuk yang dekat dengan warga. Tradisi tidak lagi berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia menjadi ruang kebersamaan, sarana pendidikan budaya, sekaligus penegas identitas warga Surabaya.

(Rophy Pareno)