18 Agenda Hari Santri 2026, PCNU Surabaya Menautkan Tradisi Pesantren dan Semangat Resolusi Jihad
SURABAYA, FileNews.id -Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kota Surabaya tidak berhenti pada upacara dan seremoni. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya menggelar 18 agenda kegiatan sepanjang 8–31 Oktober 2026, mulai dari kajian kitab kuning, lomba keagamaan, pembinaan remaja, pelatihan digital, hingga aksi kemanusiaan untuk Palestina.
Mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, rangkaian kegiatan itu ingin menegaskan satu pesan utama: santri bukan hanya pewaris tradisi keilmuan pesantren, melainkan juga bagian dari kekuatan sosial, budaya, dan perjuangan bangsa.
Jejak Sejarah di Surabaya
Pemilihan Surabaya sebagai panggung peringatan HSN memiliki bobot historis yang kuat. Pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Tanggal itu merujuk pada Resolusi Jihad yang dikumandangkan para ulama pada 22 Oktober 1945 di gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO), kantor pusat NU pada masa itu.
Gedung tersebut kini menjadi kantor PCNU Kota Surabaya di Jalan Pahlawan. Dari tempat inilah semangat perjuangan santri dan ulama turut menyatu dengan perlawanan rakyat Surabaya yang mencapai puncaknya pada peristiwa 10 November 1945.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya, Ir. H. Masduki Toha, menegaskan bahwa peringatan Hari Santri harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Resolusi Jihad.
“Hari Santri harus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali kontribusi santri dan ulama dalam menjaga keutuhan bangsa. Semangat Resolusi Jihad perlu terus diaktualisasikan melalui penguatan nasionalisme, kecintaan terhadap tanah air, penguasaan ilmu pengetahuan, dan ketakwaan. Santri harus mampu menjaga tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Bagi PCNU Kota Surabaya, HSN dimaknai sebagai Hajatan Nusantara: ruang bersama bagi seluruh elemen masyarakat untuk merawat ingatan sejarah, memperkuat persatuan, dan meneruskan semangat cinta tanah air.
Dari Kitab Kuning hingga Literasi Digital
Ketua Panitia HSN 2026 PCNU Kota Surabaya, Gus Achmad Jani atau Gus Jani, menjelaskan bahwa 18 agenda tersebut dirancang agar peringatan tidak berhenti pada seremoni. Kegiatan disusun untuk menyentuh aspek keilmuan, tradisi, sosial, kepemimpinan, kewirausahaan, hingga penguasaan teknologi.
“Ada penguatan tradisi keilmuan melalui kajian dan lomba kitab, pembinaan generasi muda, pengembangan kapasitas pesantren, hingga pelatihan pemanfaatan media digital.
Harapannya, santri mampu menjaga akar tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman,” kata Gus Jani.
Rangkaian agenda mencakup Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) di enam sekolah dengan sasaran 1.000 santri, Lomba Al-Banjari, Bahtsul Masail, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kategori qiraah dan tartil, Dauroh Tahqiq, A Walk Full Heritage, serta Lomba Khutbah Jumat Remaja.
Ada pula ziarah ke makam para muassis dan muharrik NU di Surabaya pada Selasa (20/10/2026), apel Hari Santri tingkat kecamatan, Lomba Nadhom Aqidatul Awam, Business Plan Competition untuk Generasi Z, Lomba Storytelling bertema kehidupan santri dan remaja, Liwetan Pesantren, pelatihan 99 Santri Melek Digital, serta Lomba Kitab Kuning.
Kombinasi tersebut menunjukkan arah yang ingin dibangun PCNU Kota Surabaya: menjaga kemampuan santri membaca dan memahami kitab klasik sebagai kekuatan khazanah keilmuan NU, sekaligus membekali mereka dengan kecakapan digital dan jiwa kewirausahaan.
Masjid Kemayoran Ikut Menjadi Panggung
Beberapa kegiatan juga digelar di Masjid Raudlatul Musyaawaroh Kemayoran atau Masjid Kemayoran Surabaya. Masjid yang berdiri pada 1952 itu memiliki keterkaitan historis dengan perjuangan ulama dan umat Surabaya.
Menurut penjelasan panitia, keberadaan Masjid Kemayoran berkaitan dengan perjuangan masyarakat setelah Masjid Raya Suropringgo—nama Surabaya pada masa kolonial—dibongkar oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Masjid Kemayoran kemudian dibangun sebagai penggantinya.
Keterkaitan itu juga melatarbelakangi pemilihan beberapa lomba HSN 2026. MTQ yang digelar 10–11 Oktober 2026 dikaitkan dengan peran JQH NU Surabaya, lembaga yang menjadi salah satu pionir gagasan MTQ di Indonesia dan dahulu menjalankan sejumlah aktivitas di Masjid Kemayoran.
Sementara Lomba Hadrah Al-Banjari tingkat remaja masjid se-Kota Surabaya dikaitkan dengan Perhimpunan Ta’mirul Masajid, organisasi pembina takmir masjid yang dahulu berpusat di Masjid Kemayoran.
Mujahadah Kubro dan Fun Walk 5.000 Santri
Dua agenda dinilai menjadi puncak perhatian dalam rangkaian HSN 2026: Mujahadah Kubro untuk Kemanusiaan dan Palestina pada Kamis (22/10/2026) pukul 19.00 WIB, serta Fun Walk 5.000 Santri pada Ahad (25/10/2026).
Mujahadah Kubro akan digelar di Jalan Pahlawan, tepat di depan gedung PCNU Kota Surabaya. Kegiatan tersebut merupakan agenda Pimpinan Pusat NU yang pelaksanaannya dipercayakan kepada PCNU Kota Surabaya sebagai tuan rumah. Lokasinya dipilih karena memiliki makna historis sebagai bekas kantor pusat NU tempat Resolusi Jihad dikumandangkan.
Adapun Fun Walk 5.000 Santri bertitik mulai dan selesai di Jalan Pahlawan. Kegiatan ini dirancang sebagai ajang silaturahmi santri dan pengurus dari sekitar 80 pesantren, jajaran NU dari tingkat cabang hingga ranting, serta masyarakat umum.
Kedua kegiatan itu diharapkan menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan nilai spiritual, kepedulian kemanusiaan, persaudaraan, dan semangat kebangsaan.
Permohonan Maaf kepada Warga
Terkait pelaksanaan kegiatan di kawasan Jalan Pahlawan, terutama Mujahadah Kubro dan Fun Walk 5.000 Santri, panitia menyatakan telah menyiapkan izin kepada pihak terkait serta pemberitahuan kepada warga dan pihak yang terdampak penggunaan jalan.
PCNU Kota Surabaya juga menyampaikan permohonan maaf apabila rangkaian kegiatan, termasuk persiapan dan pelaksanaannya, menimbulkan ketidaknyamanan atau mengganggu aktivitas masyarakat. Panitia berharap dukungan warga dapat mengiringi seluruh agenda agar berlangsung tertib, lancar, dan memberi manfaat luas.
Di tengah derasnya perubahan zaman, peringatan HSN 2026 di Surabaya ingin menegaskan bahwa semangat Resolusi Jihad tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Nilai itu terus diwariskan melalui ilmu, akhlak, kepedulian sosial, dan komitmen menjaga persatuan Indonesia.
Melalui tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”, PCNU Kota Surabaya mengajak masyarakat menjadikan Hari Santri sebagai momentum bersama: merawat warisan ulama, mengembangkan potensi generasi muda, dan meneruskan khidmah bagi agama, bangsa, serta kemanusiaan.
(Rophy Pareno)


