Sinergi Rumah dan Sekolah, Kunci Membentuk Generasi Unggul

Sinergi Rumah dan Sekolah, Kunci Membentuk Generasi Unggul
Foto : kegiatan parenting SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Sabtu (24/10/2026), yang mengusung tema “Sinergi Orang Tua dan Sekolah”

SURABAYA, FIleNews.id -Di balik pertumbuhan seorang anak, ada dua ruang yang tak pernah bisa dipisahkan: rumah dan sekolah. Kesadaran itu menjadi benang merah kegiatan parenting SD Muhammadiyah 13 Surabaya, Sabtu (24/10/2026), yang mengusung tema “Sinergi Orang Tua dan Sekolah”.

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah itu menghadirkan Drs. H. M. Naim, M.Pd. sebagai penceramah. Ia menekankan bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab guru di kelas, melainkan kerja bersama yang harus dijaga secara terus-menerus oleh keluarga dan sekolah.

“Sinergi yang kuat antara orang tua dan sekolah akan memberikan dampak positif bagi anak. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mantap dan siap menyongsong masa depan,” ujar Naim di hadapan para wali murid.

Dimulai dari Niat
Naim mengingatkan bahwa keberhasilan mendidik anak harus dimulai dari niat. Menurutnya, orang tua yang hadir dalam kegiatan parenting dengan kesungguhan untuk belajar akan menemukan jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebaliknya, niat yang keliru dapat membuat proses pendidikan kehilangan arah. Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa mendidik anak bukan sekadar memenuhi kewajiban, melainkan amanah yang menuntut kesadaran dan keteladanan.

Mengenali Potensi Anak
Dalam sesi tersebut, Naim juga menyoroti pentingnya orang tua mengenali bakat, minat, dan potensi anak. Pendampingan, katanya, sebaiknya dilakukan tanpa pemaksaan agar anak dapat tumbuh sesuai jalan yang paling sesuai dengan dirinya.

Ketika anak didorong mengembangkan minatnya, proses tumbuh kembang akan terasa lebih mudah dan menyenangkan. Di titik inilah, komunikasi antara orang tua, guru, dan anak menjadi penting agar harapan keluarga tidak berubah menjadi beban bagi anak.

Keteladanan dan Kematangan Emosi
Penceramah menilai kecerdasan sosial dan emosional orang tua berpengaruh langsung terhadap kestabilan emosi anak. Anak, kata dia, belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang dilihatnya setiap hari.

Karena itu, keteladanan menjadi modal utama dalam pendidikan keluarga. Bakti anak, menurut Naim, akan tumbuh secara alami ketika orang tua mampu menjadi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan orang tua untuk tidak menasihati anak saat emosi sedang memuncak. Mengelola emosi dengan tenang, ujarnya, merupakan salah satu bentuk perjuangan terbesar orang tua dalam mendidik buah hati.

Spiritual sebagai Pondasi
Selain kecerdasan intelektual, Naim menekankan pentingnya pembinaan spiritual. Menurutnya, kecerdasan yang tinggi tanpa landasan spiritual yang kuat dapat berdampak negatif bagi kehidupan anak.

Penguatan jiwa, ketenangan hati, dan keikhlasan menjadi bagian dari keberhasilan yang utuh. Pendidikan, dalam pandangan itu, tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan kedalaman batin.

Naim secara khusus menyoroti peran ibu sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak. Pembiasaan ibadah dan mengaji secara tekun, katanya, menjadi fondasi penting menuju kesuksesan anak di masa depan.

Harapan Sekolah
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah 13 Surabaya berharap wali murid semakin kompak dan selaras dengan pihak sekolah dalam mengawal tumbuh kembang siswa. 

Kolaborasi itu diharapkan melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan berprestasi.
Bagi sekolah, parenting bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah ruang untuk mempererat hubungan antara guru dan orang tua, sekaligus menegaskan bahwa masa depan anak dibangun dari keselarasan dua lingkungan terpenting dalam hidupnya: keluarga dan sekolah.

(Rophy Pareno)