Shalawat dan Gotong Royong: Maulid di Masjid Qowiyuddin tetap Hidup

Shalawat dan Gotong Royong: Maulid di Masjid Qowiyuddin tetap Hidup
Foto: Suasana Tradisi Maulid Nabi Muhamamd saw di Masjid Qowiyuddin Jagir Wonokromo Surabaya

SURABAYA, FileNews.id - Halaman sempit Masjid Qowiyuddin di Gang Masjid, Jagir Wonokromo, berubah menjadi ruang kolektif penuh doa pada Minggu (23/9/2026). Ratusan jamaah berkumpul merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW; suara shalawat bergelombang, sesekali diselingi bisik doa dan tawa kecil anak-anak yang ikut menyimak.

Masjid Qowiyuddin, dikenal sebagai salah satu langgar tertua di Surabaya, menyimpan jejak panjang kehidupan religius warga. Para sesepuh yang dulu menanam tradisi keagamaan masih dihormati, sehingga masjid berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga pusat identitas dan ruang sosial yang mengikat warga setempat.

Perayaan kali ini diprakarsai oleh Ibu Hanum, istri anggota DPRD Tubagus Lukman Amin (Fraksi PKB). Mayoritas jamaah datang dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), disertai sekitar 100 anggota Muslimat Yasinta Jagir dan warga sekitar. Kehadiran lintas kelompok tersebut memperlihatkan betapa tradisi ini merangkul beragam lapisan komunitas.

Suasana semakin khidmat ketika grup samroh El Rahmah dari Pulo Wonokromo mengiringi lantunan shalawat. Di mimbar, Ibu Nyai Hj Aminah dari Pondok Pesantren Dresmo menyampaikan tausyiah yang menekankan keteladanan Nabi, pentingnya kasih sayang antarmanusia, serta keutamaan bershalawat. Bahasa ceramahnya sederhana namun menyentuh, mampu merangkul pendengar dari berbagai generasi.

Yang menarik adalah ritus persiapan yang terus hidup: sejak malam sebelumnya, para ibu berkumpul menyiapkan konsumsi untuk jamaah—memasak, mengemas, dan saling bertukar cerita. Aktivitas ini bukan sekadar urusan logistik; ia menjadi bentuk nyata praktik gotong royong yang menguatkan jaringan sosial dan mentransmisikan nilai kebersamaan ke generasi muda.

Tren kehadiran yang meningkat tiap tahun menjadi tanda bahwa kecintaan terhadap tradisi ini masih kuat. Bagi warga Jagir, Maulid bukan sekadar perayaan tahunan: ia adalah upaya kolektif untuk meneruskan warisan moral dan spiritual, serta menegaskan identitas komunitas di tengah dinamika perkotaan.

Ketika acara usai dan jamaah mulai berangsur pulang, sisa-sisa tumpukan piring dan suara bersalaman menjadi pengingat sederhana bahwa tradisi semacam ini terus hidup karena peran aktif warga—pengurus masjid, tokoh agama, dan emak-emak yang tak kenal lelah. Dalam ritme itulah kelestarian tradisi Maulid di Masjid Qowiyuddin tetap terjamin: bukan hanya lewat ritual, tetapi lewat kebersamaan yang dijalani sehari-hari.

(Rophy Pareno)