Menjaga Nafas Tradisi Lewat Seni Tutur Besutan
SURABAYA, FileNews.id - Seni tutur Besutan, salah satu warisan budaya lisan Jawa Timur, akan menjadi tema utama dalam acara Jagongan Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur (ATL Jatim) Seri ke-22, Jumat, 4 September 2026.
Mengangkat tema “Besutan: Seni Tutur Jawa Timuran”, kegiatan tersebut akan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Acara ini menghadirkan aktor teater Meimura sebagai pemantik diskusi dan Henri Nurcahyo sebagai moderator.
Besutan dikenal sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah Jawa Timur. Kesenian ini tidak hanya menampilkan unsur cerita dan dialog, tetapi juga memuat kritik sosial, humor, simbol budaya, serta pandangan masyarakat terhadap berbagai persoalan kehidupan.
Melalui forum Jagongan ATL Jatim, Besutan ditempatkan bukan sekadar sebagai tontonan masa lalu. Seni tutur tersebut dikaji sebagai bagian dari pengetahuan kolektif masyarakat yang menyimpan nilai sejarah, identitas, serta cara pandang sosial masyarakat Jawa Timur.
Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus budaya populer, seni tutur tradisional menghadapi tantangan besar. Perubahan selera penonton, keterbatasan regenerasi pelaku seni, serta minimnya ruang pertunjukan membuat sejumlah kesenian lisan perlu terus diperkenalkan melalui pendekatan yang relevan dengan generasi sekarang.
Forum diskusi seperti Jagongan ATL Jatim menjadi salah satu ruang penting untuk membicarakan kembali posisi seni tutur dalam kehidupan masyarakat modern. Selain mempertemukan pelaku seni, budayawan, akademisi, dan masyarakat umum, kegiatan tersebut juga membuka peluang bagi dokumentasi serta pengembangan tradisi lisan melalui media digital.
Besutan dan Identitas Jawa Timur
Besutan memiliki hubungan erat dengan perkembangan teater tradisional di Jawa Timur. Karakter dan penyajiannya merepresentasikan gaya komunikasi masyarakat Jawa Timuran yang dikenal lugas, spontan, jenaka, sekaligus kritis.
Dalam seni tutur, pesan kebudayaan tidak hanya disampaikan melalui alur cerita. Intonasi, pilihan kata, gestur, ekspresi, dan interaksi dengan penonton menjadi bagian penting dari pertunjukan. Karena itu, Besutan dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi sosial yang hidup dan terus beradaptasi.
Pertunjukan tradisional semacam ini juga berfungsi sebagai ruang refleksi masyarakat. Persoalan mengenai ketimpangan sosial, perilaku kekuasaan, hubungan antarmanusia, hingga perubahan nilai dapat disampaikan melalui bahasa yang dekat dengan keseharian penonton.
Dengan karakter tersebut, Besutan berpotensi dikembangkan sebagai media edukasi budaya dan komunikasi publik. Penyajiannya dapat diperluas melalui pertunjukan panggung, video pendek, podcast, siaran langsung, maupun konten digital yang tetap mempertahankan nilai-nilai dasarnya.
Merawat Tradisi di Era Digital
Pelestarian tradisi lisan tidak cukup hanya dengan menyimpan arsip pertunjukan. Tradisi harus tetap dipraktikkan, dipahami, dan diberi ruang untuk berdialog dengan persoalan masa kini.
Seni tutur Besutan dapat bertahan apabila generasi muda tidak hanya diperkenalkan pada sejarahnya, tetapi juga diberi kesempatan untuk mempelajari teknik, bahasa, karakter, dan nilai sosial yang terkandung di dalamnya.
Kehadiran pelaku teater seperti Meimura dalam forum tersebut diharapkan dapat memberikan perspektif praktis mengenai seni pertunjukan, sekaligus memperkaya pemahaman publik terhadap Besutan sebagai bagian dari ekosistem teater tradisional Jawa Timur.
Acara Jagongan ATL Jatim Seri ke-22 terbuka bagi masyarakat yang memiliki perhatian terhadap seni, budaya, sejarah, pendidikan, dan tradisi lisan. Peserta dapat mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting dengan ID 202 382 1107 dan passcode ATL-JATIM.
Melalui perbincangan tersebut, Besutan diharapkan tidak berhenti sebagai warisan yang dikenang, melainkan terus hidup sebagai seni tutur yang mampu membaca zaman, menyuarakan masyarakat, dan memperkuat identitas budaya Jawa Timur.
(Rophy Pareno)


