DPC GMNI Se-Jawa Timur Kecam Dugaan Kekerasan dan Intervensi dalam Konferda GMNI Jatim 2026

DPC GMNI Se-Jawa Timur Kecam Dugaan Kekerasan dan Intervensi dalam Konferda GMNI Jatim 2026

NGANJUK, FileNews.id — Pelaksanaan Konferensi Daerah (Konferda) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur yang berlangsung pada 4–6 Juni 2026 di Hotel Sanggrahan, Nganjuk, diwarnai dinamika panas. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI se-Jawa Timur secara resmi mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam keras dugaan tindakan kekerasan dan intervensi yang mewarnai jalannya forum tersebut.

Dalam pernyataan sikapnya, DPC GMNI se-Jawa Timur menyoroti dugaan intervensi dari pihak yang disebut-sebut senior organisasi, yang dinilai memaksakan kepentingan pribadi hingga memicu kericuhan di tengah jalannya Konferda.

“Kami mengutuk keras tindakan intervensi dari diduga senior yang memaksakan kepentingan ego pribadi hingga menciptakan kericuhan dan kegaduhan pada kondisi Konferda GMNI Jawa Timur hari ini,” demikian bunyi salah satu poin pernyataan sikap tersebut, Minggu (6/9/2026).

Setidaknya ada empat poin utama yang disampaikan DPC GMNI se-Jawa Timur menanggapi dinamika Konferda tersebut:
1. Mengutuk intervensi senior — DPC GMNI menyatakan keberatan atas dugaan campur tangan pihak senior berinisial Bismo Pratonggopati yang dinilai memaksakan agenda pribadi hingga memantik kegaduhan di arena Konferda.
2. Mengecam aksi premanisme — Segala bentuk kekerasan fisik dan dugaan pemukulan terhadap kader-kader GMNI dikecam keras. DPC menegaskan Konferda semestinya menjadi ruang ideologis dan akademis, bukan ajang kekerasan.
3. Menuntut pengusutan hukum — DPC mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas pelaku dugaan pemukulan serta pihak-pihak yang diduga berada di balik kericuhan, sehingga kader yang menjadi korban mendapatkan kepastian keadilan.
4. Menjaga persatuan kader — Seluruh kader GMNI se-Jawa Timur diimbau tetap solid, tidak terprovokasi oleh agenda pribadi oknum yang berupaya memecah belah organisasi, serta menjaga marwah GMNI sebagai organisasi kemahasiswaan yang berlandaskan ideologi Marhaenisme.

Konferda GMNI Jawa Timur 2026 sendiri mengangkat semangat konsolidasi kader dari puluhan DPC se-Jawa Timur untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Namun, forum yang idealnya menjadi ruang dialog ideologis dan regenerasi kepemimpinan ini justru diwarnai laporan dugaan kekerasan dan intimidasi terhadap sejumlah delegasi.

DPC GMNI se-Jawa Timur menegaskan bahwa forum internal organisasi tidak boleh dikotori dengan cara-cara premanisme maupun intervensi kepentingan personal. Mereka berharap proses hukum dapat berjalan transparan guna memberikan efek jera dan menjaga integritas Konferda sebagai mekanisme demokrasi internal organisasi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak yang disebut dalam pernyataan sikap tersebut maupun dari kepolisian setempat terkait tindak lanjut dugaan insiden ini.

  (Red)