PC PARFI Sidoarjo Siapkan Edukasi Anti-Narkoba sasar Masyarakat Sidoarjo
SIDOARJO, FileNews.id - Pengurus Cabang (PC) Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sidoarjo tengah merancang program penyuluhan pengendalian narkoba yang menyasar masyarakat lokal di tingkat kecanatan. Kegiatan ini bukan lomba atau ajang pencarian bibit, melainkan edukasi langsung yang melibatkan narasumber, perangkat kecamatan, dan tokoh masyarakat.
Dalam obrolan dengan tim PC PARFI Sidoarjo di rumah Ketua PC Maria Eva, Sabtu (12/9/2026), turut hadir Pengurus PC PARFI Sidoarjo Kiki Juanda selaku sekretaris dan
Yulie Chaniago selaku wakil ketua serta Rophy Pareno selaku Ketua Pelaksana dari Biro Pendidikan, Seni & Budaya PD PARFI Jatim, dalam obrolan tersebut disepakati bahwa pendekatan berbasis warga masyarakat di lingkungan Kecamatan dinilai lebih efektif untuk menjangkau masyarakat sekitar secara langsung.
“Tidak semua 18 kecamatan di Sidoarjo harus dijangkau sekaligus. Kami akan pilih beberapa lokasi percontohan yang strategis,” ujar salah satu anggota tim.
Ancaman penyalahgunaan narkotika di tingkat akar rumput memicu perhatian serius berbagai elemen masyarakat. Guna memperkuat benteng pertahanan sosial di tingkat kecamatan, sebuah program edukasi pencegahan terpadu siap digulirkan melalui sinergi lintas sektor yang melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan generasi muda.
Inisiatif yang diusung oleh kolaborasi pemuda Karang Taruna dan Pemerintah Kecamatan ini dirancang sebagai ruang edukasi publik yang inklusif dan aplikatif. Berlangsung selama empat jam, rangkaian acara dikemas secara padat dan interaktif untuk memastikan pesan pencegahan tersampaikan secara efektif kepada masyarakat.
Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, kegiatan ini menghadirkan jajaran narasumber kompeten dari Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK), dinas pemerintah terkait, hingga praktisi rehabilitasi. Kehadiran para pakar ini diharapkan mampu membedah regulasi, dampak klinis, hingga langkah konkret penanganan penyalahgunaan narkoba di lingkungan keluarga.
Acara ini dibuka luas untuk masyarakat umum dengan mengundang pemangku kepentingan tingkat kecamatan, jajaran Pemdes, pengurus RW, serta kader Karang Taruna. Keterlibatan lini struktural desa hingga organisasi pemuda menjadi kunci utama agar strategi pencegahan dapat diterapkan secara merata di tiap wilayah RT dan RW.
Berbeda dengan sosialisasi formal pada umumnya, program ini menyoroti sesi tanya jawab interaktif sebagai agenda utama. Audiens diberikan ruang seluas-luasnya untuk berdiskusi, menyampaikan persoalan di lapangan, serta berkonsultasi langsung dengan para ahli mengenai upaya preventif di lingkungan masing-masing.
Guna menunjang keberlangsungan dan kelancaran kegiatan, panitia menerapkan strategi pendanaan kolaboratif. Dukungan operasional dialokasikan secara transparan untuk memenuhi seluruh kebutuhan logistik acara—mulai dari pementasan seni pembuka, honorarium narasumber dan pembawa acara, fasilitas transportasi, perlengkapan publikasi dan sertifikat, konsumsi peserta, hingga dokumentasi media.
Melalui pendekatan terpadu dan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, program ini diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan pijakan awal terbentuknya lingkungan desa yang tangguh, aman, dan bersih dari ancaman narkoba.
“Kecamatan tidak membebani penuh, hanya dukungan sebagian. Pemdes dalam satu kecamatan bisa gotong royong,” jelas tim.
Strategi pelaksanaan dirancang tidak kaku. Lokasi akan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan ketersediaan dana. Prioritas diberikan pada kecamatan dengan kepala kecamatan yang fleksibel dan bersedia mendukung, baik secara finansial maupun fasilitas seperti pendopo.
Keterbatasan anggaran tak lagi jadi alasan untuk menghentikan sebuah program. Lewat pendekatan kolaboratif dan strategi adaptif, pelaksanaan kegiatan di tingkat kecamatan kini didorong menggunakan skema pembiayaan gotong royong antar-pemerintah desa (pemdes).
Pihak kecamatan menegaskan bahwa beban finansial tidak dipikul sepenuhnya oleh satu pihak. Kecamatan hanya memberikan dukungan sebagian, sementara selebihnya dijangkau bersama oleh pemdes yang berada dalam satu wilayah.
"Kecamatan tidak membebani penuh, hanya dukungan sebagian. Pemdes dalam satu kecamatan bisa gotong royong," ujar tim pelaksana saat menjelaskan skema pendanaan program tersebut.
Melalui sinergi antar-pemdes dan kepemimpinan kecamatan yang terbuka, skema ini diharapkan dapat menjadi model efisiensi anggaran tanpa mengurangi kualitas dan manfaat program bagi masyarakat.
Sebelum eksekusi, tim akan melakukan survei lokasi dan pendekatan ke kepala desa untuk memastikan dukungan penuh. Program ini merupakan bagian dari program kerja PARFI Jatim dengan kolaborasi PC setempat.
Kolaborasi dengan Pondok Pesantren Al Kholiqy Waru buat Sidoarjo.
Rencana tindak lanjut mencakup obrolan dengan Gus Kholiq dari Pondok Pesantren Rehabilitasi Pecandu Narkoba Al Kholiqy Waru Sidoarjo pada Senin (14/9/2026).
Langkah ini diambil untuk memperkuat aspek rehabilitasi dan pendampingan pasca-edukasi. Pondok Pesantren Al Kholiqy dikenal sebagai lembaga yang menangani pecandu narkoba melalui pendekatan fisik, mental, spiritual, dan keterampilan sosial.
“Ada harapan tinggi bahwa tema pengendalian narkoba akan mudah mendapat dukungan karena ini isu sosial yang sangat relevan,” pungkas tim PC PARFI Sidoarjo.
Program ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi kecamatan lain di Sidoarjo, sekaligus memperkuat sinergi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, dan lembaga rehabilitasi dalam menghadapi tantangan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja.
(Rophy Pareno)


