Salam 3 Jari, dari Film ke Aksi Jalanan
SURABAYA, FileNews.id - Disadur dari berbagai sumber faktual bahwa Salam tiga jari (three-finger salute) yang populer hari ini berasal dari novel dan film The Hunger Games, lalu diadopsi gerakan pro-demokrasi di Thailand sejak 2014 dan menyebar ke Myanmar serta gerakan protes lain. Dalam konteks Indonesia belakangan, ia dipakai sebagai simbol solidaritas dan kritik terhadap kekuasaan, meski makna pastinya bergantung pada kelompok dan situasi pemakainya.
Asal dalam fiksi
Dalam The Hunger Games karya Suzanne Collins, gestur dibentuk dengan mengangkat telunjuk, jari tengah, dan jari manis, sementara ibu jari serta kelingking ditekuk. Awalnya ia adalah tanda penghormatan, kekaguman, simpati, dan perpisahan masyarakat Distrik 12.
Seiring cerita berjalan, salam itu berubah menjadi lambang solidaritas dan pemberontakan masyarakat terhadap Capitol, pemerintahan otoriter dalam dunia fiksi tersebut. Inilah yang menjadikan gestur itu sangat mudah dipindahkan ke konteks perlawanan politik di dunia nyata.
Dari film ke jalanan
Pemakaian politiknya paling terkenal dimulai di Thailand setelah kudeta militer Mei 2014. Sejumlah pemuda mengangkat tiga jari untuk menyatakan penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer; gestur itu kemudian menyebar luas dalam gerakan pro-demokrasi Thailand.
Pada 2020, simbol ini kembali muncul dalam demonstrasi mahasiswa Thailand yang menuntut reformasi politik dan konstitusi. Setelah kudeta Myanmar pada Februari 2021, tenaga medis dan peserta aksi juga memakainya sebagai tanda penolakan terhadap junta militer serta solidaritas gerakan sipil.
Makna dan konteks
Dalam gerakan pro-demokrasi, salam tiga jari lazim dikaitkan dengan kebebasan, kesetaraan, dan solidaritas. Beberapa pihak juga mengaitkannya dengan semboyan Revolusi Prancis: liberté, égalité, fraternité—kebebasan, kesetaraan, persaudaraan.
Secara sosiologis, kekuatan simbol ini terletak pada kesederhanaan dan sifatnya yang mudah ditiru: tanpa perlu pidato atau spanduk, seseorang dapat menunjukkan identitas kolektif, penolakan, dan kebersamaan. Namun, gestur yang sama tidak otomatis bermakna politik sama di setiap tempat; maknanya dibentuk oleh narasi kelompok yang memakainya.
Perlu dibedakan
Ada juga “tiga jari” dalam budaya metal, biasanya ibu jari, telunjuk, dan kelingking yang diacungkan. Itu berbeda dari three-finger salute ala The Hunger Games dan lebih berkaitan dengan identitas, antusiasme, serta solidaritas komunitas musik rock/metal.
Jadi, bila yang dimaksud adalah salam tiga jari yang viral dalam aksi demonstrasi, akar paling langsungnya adalah The Hunger Games, sedangkan sejarah politiknya dimulai dari Thailand pasca-kudeta 2014 dan kemudian diperluas oleh gerakan pro-demokrasi di Asia Tenggara.
(Rophy Pareno)


