Dari Malam Batik hingga Daun Kelor: Dua Kampus Hadirkan Harapan Ekonomi Baru di Kedungdow
SITUBONDO, FileNews.id -Di Dusun Bengkosabe, Desa Kedungdowo, Kabupaten Situbondo, aroma malam panas dan bunyi jarum mesin jahit menjadi latar harian sekelompok warga yang menolak menyerah pada keterbatasan. Di sinilah Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan kelompok PKK berupaya mengubah keterampilan menjadi peluang ekonomi—kini dengan dukungan teknologi, pendampingan akademik, dan jaringan pemasaran digital.
Dosen Universitas PGRI Banyuwangi (UNIBA) bersama Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya menjalankan program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat Berdampak (Kosabangsa) 2026 di Desa Kedungdowo, Kecamatan Arjasa. Program yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini mengusung tema “Optimalisasi Industri Kreatif Rumah Batik Inklusi (RUBI) dan Kelompok PKK melalui Inovasi Teknologi Mesin Pelorot Malam dan Mesin Jahit Digital di Wilayah Miskin Ekstrem.”
Batik Inklusi yang Ingin Naik Kelas
RUBI, yang dipimpin A. Sujamin Haryadi dan beranggotakan 30 orang—sebagian besar penyandang disabilitas—telah lama menjadi ruang produktivitas sekaligus ruang penguatan martabat. Namun, seperti banyak usaha kreatif berbasis komunitas, tantangan datang dari sisi produksi dan pasar: kapasitas terbatas, warna batik mudah pudar, motif yang belum beragam, serta pemasaran yang masih bergantung pada jalur konvensional.
Tim pendamping menjawab persoalan itu dengan memperkenalkan mesin pelorot malam yang dirancang lebih efektif, aman, dan ergonomis bagi pekerja difabel. Pendampingan juga menyentuh teknik pewarnaan agar lebih tahan luntur, pengembangan motif batik ciprat bernuansa lokal, hingga pemasaran melalui Instagram, TikTok, dan marketplace.
Targetnya tidak berhenti pada pengenalan alat. Program menargetkan kenaikan produksi dari 125 menjadi 400 lembar batik per bulan, lahirnya 10 motif baru, serta perluasan jaringan pemasaran dan kerja sama dengan pihak ketiga.
“Tujuan Kosabangsa ini bukan hanya mengenalkan alat, tetapi membantu mitra mengembangkan usaha secara lebih mandiri, inklusif, dan berkelanjutan. Teknologi, peningkatan keterampilan, dan pemasaran perlu berjalan bersama agar hasil pendampingan dapat memperkuat daya saing produk serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Ketua Tim Pelaksana dari UNIBA, Dr. Ikhwanul Qiram, S.T., M.T.
PKK, Daun Kelor, dan Pangan Bergizi
Pendampingan tidak berhenti di ruang batik. Kelompok PKK Desa Kedungdowo yang dipimpin Purwatiningsih dan beranggotakan 23 orang mendapatkan pelatihan pengoperasian mesin jahit digital untuk mengembangkan produk fesyen berbahan batik.
Mereka juga belajar mengolah daun kelor menjadi empat produk pangan: bakso, mi, teh, dan tepung. Lebih dari sekadar inovasi kuliner, pengolahan daun kelor dimaksudkan sebagai media edukasi gizi keluarga sekaligus dukungan terhadap upaya pencegahan stunting.
Kelompok PKK juga dibekali kemampuan pembukuan usaha sederhana dan pemasaran digital. Di sisi lain, mengingat potensi bencana puting beliung, tim mendampingi penyusunan sistem mitigasi: prosedur operasi standar tanggap darurat, peta jalur evakuasi, pembentukan kelompok siaga, hingga simulasi evakuasi.
“Kami berharap pendampingan ini memberi keterampilan yang bisa langsung dipraktikkan, membantu anggota mengembangkan produk dan pemasaran, serta membuat kegiatan ekonomi kelompok semakin berkelanjutan. Kami juga berharap pengetahuan tentang pangan bergizi dan kesiapsiagaan bencana dapat bermanfaat bagi keluarga dan lingkungan,” ungkap Purwatiningsih.
Kolaborasi Lintas Keilmuan
Kegiatan ini menggabungkan keahlian teknik, biologi, elektro, manajemen, akuntansi, dan pengembangan pangan fungsional. Tim UNIBA dipimpin Ikhwanul Qiram dari Teknik Mesin, bersama Hasyim As’ari dari Biologi dan Adi Mulyadi dari Teknik Elektro, serta didukung tujuh mahasiswa.
Sementara itu, tim Unitomo diketuai Prof. Dr. Dra. Liosten Rianna Roosida Ully Tampubolon, M.M., bersama Prof. Dr. Nur Sayidah, S.E., M.Si., Ak., dan Prof. Dr. Ir. Fadjar Kurnia Hartati, M.P. Pendampingan Unitomo berfokus pada manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan pangan fungsional berbasis daun kelor.
Dukungan juga datang dari pemerintah desa. Kepala Desa Kedungdowo, Moh. Hafit, S.M., mengapresiasi program ini dan menyatakan pemerintah desa turut berkontribusi dalam pendanaan sebesar Rp40 juta.
“Kami sangat mengapresiasi pelaksanaan program Kosabangsa di Desa Kedungdowo. Program ini membawa pengetahuan, teknologi, dan pendampingan yang dibutuhkan masyarakat, khususnya untuk mengembangkan usaha batik inklusif dan meningkatkan keterampilan kelompok PKK.
Pemerintah desa mendukung program ini, termasuk melalui kontribusi pendanaan sebesar Rp40 juta, karena kami berharap manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang dan membantu masyarakat menjadi lebih mandiri,” kata Hafit.
Menuju Model Pemberdayaan yang Bisa Direplikasi
Dengan sekitar 3.296 jiwa penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani, peternak, dan buruh tani, Desa Kedungdowo menjadi contoh bagaimana pemberdayaan dapat dibangun dari aset lokal: batik, kelompok perempuan, tanaman kelor, dan semangat gotong royong.
Tim juga menjajaki dukungan dari Dekranasda, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta BPBD Kabupaten Situbondo. Setelah program berakhir, pembinaan direncanakan berlanjut melalui pusat studi kewirausahaan kedua perguruan tinggi.
Dari mesin pelorot malam hingga secangkir teh daun kelor, Kedungdowo sedang menunjukkan bahwa inklusi bukan sekadar wacana. Ia dapat hadir dalam bentuk paling nyata: pekerjaan, produk, keterampilan, dan harapan yang tumbuh dari tangan-tangan warga sendiri.
(Rophy Pareno)


