AI Bukan Sekadar Alat Cepat: Ketika Teknologi Harus Berpijak pada Proses Bisnis
SURABAYA, FileNews.id - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tengah mengubah wajah industri. Teknologi ini tidak lagi sekadar mempercepat pekerjaan administratif, tetapi kini turut mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dan strategis. Namun, seberapa siap perusahaan memanfaatkannya secara bijak?
Pertanyaan itu menjadi benang merah kuliah tamu yang diselenggarakan Program Studi Teknik Industri Universitas Ma'arif Hasyim Latif (UMAHA). Kegiatan ini menghadirkan Ir. Bambang Suratno, S.T., M.T., Ph.D., IPM., akademisi Program Studi Magister Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (MTI UII), sebagai narasumber.
Kuliah tamu tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Program Studi MTI UII dan Teknik Industri UMAHA. Kerja sama ini dimaksudkan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan teknologi serta penerapannya dalam dunia industri yang terus berubah.
Teknologi Bukan Solusi Instan
Di hadapan mahasiswa, Bambang menegaskan satu pesan penting: pemanfaatan AI harus berangkat dari pemahaman terhadap proses bisnis yang berjalan. Menurutnya, teknologi tidak otomatis menjadi solusi apabila akar permasalahan dalam sebuah proses belum teridentifikasi dengan baik.
“Perusahaan perlu memahami alur proses, menemukan akar permasalahan, dan melakukan perbaikan terlebih dahulu sebelum menentukan teknologi yang akan digunakan,” jelas Bambang.
Pandangan ini sejalan dengan praktik transformasi digital saat ini. AI memang mampu memetakan proses, menganalisis data operasional, mengenali hambatan, hingga memberi rekomendasi perbaikan. Akan tetapi, efektivitasnya sangat bergantung pada kualitas proses dan data yang menjadi fondasinya.
Dengan kata lain, AI tidak menggantikan kemampuan berpikir sistematis seorang insinyur industri. Justru, teknologi tersebut menuntut kemampuan itu semakin tajam.
BPM sebagai Fondasi Transformasi Digital
Materi kuliah juga menyoroti peran Business Process Management (BPM) dalam mendukung transformasi digital. BPM dipahami sebagai pendekatan untuk merancang, menjalankan, mengukur, dan memperbaiki proses kerja agar selaras dengan tujuan organisasi.
Dalam ekosistem industri modern, BPM tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat efisiensi. Ia berkembang menjadi kerangka tata kelola yang memastikan penerapan AI berjalan terarah, transparan, dan bertanggung jawab.
AI dapat membantu mempercepat analisis data serta menyajikan rekomendasi. Namun, kualitas keputusan tetap ditentukan oleh kualitas data, kejelasan proses, dan pertimbangan manusia. Data yang tidak lengkap, tidak konsisten, atau terfragmentasi berpotensi menghasilkan rekomendasi yang menyesatkan.
Karena itu, perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi. Mereka perlu membangun tata kelola data, menetapkan indikator keberhasilan, serta melibatkan manusia dalam pengawasan keputusan—terutama pada kondisi yang kompleks atau berisiko.
Peran Baru Insinyur Industri
Bagi mahasiswa Teknik Industri UMAHA, pesan utama kuliah tamu ini jelas: profesi insinyur industri tidak berhenti pada urusan efisiensi proses. Mereka juga dituntut mampu melihat persoalan secara menyeluruh, membaca keterkaitan antarproses, dan menempatkan teknologi pada posisi yang tepat.
Kemampuan tersebut semakin relevan ketika AI mulai masuk ke berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, layanan publik, hingga industri kreatif. AI dapat mengotomatiskan tugas repetitif, memprediksi risiko, dan mempercepat analisis. Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan manusia yang memahami konteks, etika, keamanan data, serta dampak sosialnya.
Di sinilah pendidikan tinggi memegang peran strategis. Kuliah tamu seperti ini tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga menumbuhkan cara berpikir kritis: teknologi harus melayani manusia dan organisasi, bukan sebaliknya.
Menyambut Era Transformasi Digital
Kehadiran AI menandai babak baru dalam dunia kerja. Organisasi yang mampu memadukan pemahaman proses bisnis, data yang berkualitas, dan kapasitas manusia akan lebih siap menghadapi perubahan. Sebaliknya, adopsi teknologi yang terburu-buru tanpa pemetaan masalah berisiko menciptakan efisiensi semu.
Bagi generasi insinyur industri masa depan, tantangan tersebut justru menjadi peluang. Mereka dituntut bukan hanya menguasai alat, tetapi juga mampu menjadi penghubung antara teknologi, proses bisnis, dan kebutuhan manusia.
Kuliah tamu ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus penguatan kolaborasi akademik. Dari ruang kelas UMAHA, pesan yang diwariskan sederhana namun mendasar: di tengah derasnya gelombang AI, berpikir sistematis tetap menjadi bekal yang tidak lekang oleh waktu.
(Rophy Pareno)


